Minggu, 30 Maret 2014

Senin, 18 November 2013 Indahnya Persahabatan



 
            Kurang lebih sudah hampir tujuh tahun saya meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya sangat saya cintai. Pekerjaan yang membuat saya selalu berhubungan dengan banyak karyawan di suatu perusahaan  rokok terbesar di Indonesia yang bertempat di kawasan rungkut Surabaya. Sebagai salah satu tim HRD saya harus menghandel 2000an karyawan dari total 25000an karyawan dalam satu semester untuk dievaluasi.
            Bekerja dari pagi hingga pagi lagi adalah hal lumrah buat saya saat itu. lembur evaluasi tak akan dirasa lelah karena saya akan segera ijin jalan ke sebuah sudut pabrik yang disana terdapat kantin karyawan 24 jam. Tak ada perbedaan kasta bila tiba di kantin. Mau dikata ia outsourcing, staf HRD, atau Manager sekalipun semua diperlakukan sama. Saya juga tak pernah memilih posisi duduk saat makan atau hanya sekedar minum wedang ronde yang jadi favorit karyawan.
            Beberapa kali saat saya masih baru bekerja di perusahaan tersebut memang para pekerja sempat menjauh memberikan posisi tempat duduknya kepada saya. Maklumlah, seragam kami berbeda antara pekerja outsourcing dengan staf. Namun, hal tersebut membuat saya tak nyaman. Rasanya saat saya tiba di kantin seperti ngangon meri karena spontan mereka menjauh bersamaan. Hanya satu orang  yang berhasil saya ajak bicara pada awal mula pertemuan hingga akhirnya rata-rata pekerja mengenal saya. Mbak nasikhah, nama pekerja yang ternyata berhasil menjadi jembatan bagi saya dengan pekerja untuk berbincang lebih dekat lagi.
            Mbak nasikhah, dibalik diamnya ternyata ia memiliki banyak potensi. Selain sebagai pekerja outsourcing ia juga menerima jahitan dari teman sekerja atau tetangganya serta seringkali ikut membantu salah satu tetangganya merias hantaran pengantin. Belakangan saya tahu, ia menjadi single parent karena suaminya meninggal karena sakit. Ia berjuang sendiri menghidupi keempat anak buah cinta dengan almarhum suaminya. Persahabatan yang tak mengenal jarak usia antara mbak Nasikhah dan saya akhirnya sedikit merenggang saat saya mengundurkan diri sebagai staf HRD dan lebih fokus pada pekerjaan sebagai dosen yang saat itu sudah 8 tahun lebih dulu saya tekuni, hingga akhirnya saya mengikuti suami berdinas ke Bandung.
            Bandung-Surabaya memang sangat jauh, terakhir berbincang via telepon saat lebaran kemarin dengan kondisi mbak nasikhah yang masih sehat. Pagi ini saya mendapat kabar dari putri bungsunya bahwa mbak Nasikhah sudah kembali ke pangkuanNya. Kanker paru yang menjangkitinya selama dua tahun terakhir membuat ia akhirnya menyerah dan kembali pada yang Maha Memiliki.
            Satu hal kalimat mbak Nasikhah yang masih teringat saat terakhir berbincang via telepon, lebaran kemarin : “Nda, titip anak-anak kalau saya harus pulang duluan” . ia memang memanggil saya dengan sebutan Bunda semenjak saya mengabarkan bahwa saya telah memiliki jagoan bernama Fadhiil kurang lebih lima tahun yang lalu. kewajiban saya untuk tetap menjalin silaturahmi dengan anak-anaknya Insya Allah akan saya teruskan.
            Selamat jalan mbak Nasikhah. Terimakasih untuk sebuah jalinan persahabatan yang indah selama hampir 11 tahun. Semoga Allah melancarkan jalanmu sebesar cintamu kepada Nilam, Azwar, Yeni dan Aris.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...