Minggu, 19 Februari 2017

Memilah sampah dari rumah : organik, non organik





Apa pasal?
Beberapa hari yang lalu di bak sampah depan rumah, saya menemukan sampah yang yakin bukan milik saya. Sampah non organic yang tergolong sampah bersih sudah saya pisahkan dengan non organic tercampur dan acak-acakan dengan beberapa sampah pospak yang basah dan hmm berbau menyengat. Entah kelakuan siapa ini yang jelas bikin jengkel karena sampah yang sudah dipilah pilah, diacak dan dicampur seenak jidatnya. Ceritanya TITIP SAMPAH.
Omelan panjang dalam hati pun antri. Huh…siapa lagi ini yang enggan untuk sadar memisahkan sampah. 
 

Mungkin Memisahkan sampah organic, non organic dianggap ribet
Mengapa?
Saya pernah mendapatkan pernyataan ini dari salah seorang ibu yang notabene istri dari abdi Negara alias PNS. Yah, mungkin pendapat saya memang belum ada artinya buat beliau yang mengganggap bahwa memilah sampah itu Ribet. Beliau beranggapan hanya bisa mengumpulkan sampah ke dalam satu kantong sampah tanpa mau tahu manakah sampah organic dan non organic. Kalau disuruh memilah sampah menurut golongannya dianggap ribet. Toh beliau telah merasa membayar iuran tinggal letakkan sampah di depan rumah, nantinya ada tukang sampah yang rutin mengambil. Beliau lupa keluhan yang ia sampaikan dengan bau sampah menyengat akibat keterlambatan pengambilan sampah mengakibatkan  bencana kecil berupa polusi bau akibat perilakunya sendiri. kebayang nggak kalau sampah organic dan non organic nyampur….welehhh…
Ego seperti inilah yang harus dihilangkan. Merasa punya uang untuk membayar jasa tukang sampah lalu berhak untuk melakukan tindakan yang ternyata akan merugikan anak cucunya nanti di masa depan
Idealis?
Mungkin.
Tapi tidak buat saya. Karena sebenarnya ngga susah untuk memisahkan antara sampah organic, non organic. Yang penting Niat Ingsun dulu lah
coba saja, misalkan 1 rumah melakukan pemisahan sampah organic, non organic  lalu sampah organic itu dimasukkan ke dalam lubang biopori, sampah berupa daun-daun kering  kita tanam dalam tanah yang nantinya bisa menjadi pupuk alami bagi tanah, jadi yang kita kirim ke pembuangan sampah akhir hanyalah sampah non organic . tentunya kita mempermudah pekerjaan para pengumpul botol, plastik bekas. .  Sampah nggak akan menggunung dalam jangka waktu lama, kita tak perlu menutup hidung saat melewati TPA/TPS
bagaimana kalau yang melakukan 10 rumah, 100 rumah, 1000 rumah atau bahkan 10000 rumah. Nyaman bukan kalau lingkungan bersih.
Hmm jadi teringat dengan program pengolahan sampah di Surabaya. Andai saja di Bandung punya tempat pengolah sampah serupa dan bisa melakukan hal tersebut. Pilah sampah, setor sampah menurut golongannya, perlihatkan KTP lalu bisa mendapatkan pupuk kompos Gratis….wah siapa yang nggak mau
Mungkin kalau Bandung bisa diberlakukan  : setiap setor sampah sebanyak 10x atau 20x yang sudah dipilah menurut golongannya akan mendapatkan bibit tanaman . aih pasti makin bahagia tinggal di Bandung . selain membantu pengolahan sampah, pembagian bibit tanaman gratis akan membantu penghijauan di Bandung….pasti banyak yang mau kan. 

Bibitnya dari mana? Todong aja perusahaan-perusahaan untuk menyalurkan CSRnya dalam bentuk pengadaan bibit tanaman pelindung/buah-buahan….hahaha pengen gratisan atuh

Apa sih susahnya memilah sampah? Toh bumi ini akan tetap menjadi tempat tinggal bagi anak cucu kita. Jadi coba lah mulai menata hati untuk memulai menata pilah sampah rumah tangga. Kalau bukan dimulai dari rumah kita , lalu siapa lagi yang mau memulai?
Jangan sampai Sampahmu mendarah daging menjadi bencanamu….segera dimulai ya…nggak pakai lama, ngga pakai ribet, nggak pake gengsi !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...