Jumat, 05 Juli 2019

Rendang Kemasan Pilihan Praktis Di Kala Haji



Musim Haji telah Tiba
Apakah Tahun Ini Giliran Anda Untuk Berangkat Ke Baitullah?
Atau Giliran Orangtua, Kerabat, Tetangga? Sudah Sejauh Mana Perbekalan Untuk Ibadah Haji Kali Ini?

Kebutuhan Makanan Yang Bersahabat Dengan Tubuh Menjadi Hal Yang Harus Diperhatikan Selama Melaksanakan Perjalanan Haji. Mengapa Demikian? Kan Sudah Ada Catering Haji?

Jangan Salah. Saat Jauh Dari Tanah Air, Maka Kerinduan Akan Makanan Lokal Dengan Bumbu Asli Akan Memanggil Manggil. 

Hidangan Catering Haji Seringkali Tak Cocok Dengan Lidah Jamaah Haji Dan Tentu Jumlahnya Seringkali Tak Sesuai Dengan Porsi Yang Diharapkan.
Belum Lagi Catering Haji Tak Selalu Tepat Waktu Mendistribusikan Makanan Kepada Jamaah Haji.

Rendang kemasan kemasan 125 gram by www.restumande.com

 Nah, Untuk Mengatasi Hal Ini Rendang Kemasan Restu Mande Harus Menjadi Bawaan Wajib Selama Melaksanakan Perjalanan Haji. 

rendang kemasan 300 gram


Tinggal Sediakan Nasi Hangat Dan Buka Segel Rendang Kemasan Restu Mande yang bebas pengawet dan MSG. Tak perlu DIPANASKAN lagi . Nikmatnya Serasa Menyantap Masakan Padang Di Tanah Air.

Rendang kemasan Restu mande 500 gram
Mudah , Bukan?
Jadi, Siap Berangkat Haji?



Jangan Lupa, Sisihkan Atau Selipkan Di Koper Anda Untuk Rendang Kemasan Restu Mande. 

Resiko Telat Kebagian Makan, Antri, Makanan Tak Cocok Dengan Lidah Bisa Teratasi dengan Rendang Kemasan Restu Mande yang Bisa Dibawa Kemana Saja, Dan Moment Apapun. 

 
Mau Nyontek Saya Nih, Bekal Praktis Saat Haji Dan Yakin Lezat Dan Sehat?
Segera Pesan  Dan Kirim Via Gosend Rendang Kemasan Restu Mande Via Melalui
Wa +62811229004

Senin, 02 April 2018

Punya geng “teman” itu Mahal?




Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis?

Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah
Mau seru-seruan rame rame tinggal pergi ke taman kota dan menikmati semangkuk bakso atau cuanki, atau tak jarang semangkuk bakso dimakan berdua atau bertiga, atau bahkan sekedar menyantap gorengan dan es limun. Sudah senang kan?

Kostumnya ? seragam sekolah atau paling banter celana jeans dan kaos polo
Jalan bareng tinggal jalan jalan cuci mata ke mall
Mau foto? Tinggal ke studio atau foto box , cekrek….jadi  …dan satu geng kebagian semua salinannya. Happy , punya kenangan indah di memori dan foto…rasanya jaman kala itu sudah cukup.


Sekarang….??


(buat yang ngga setuju monggo saja…..saya tidak akan meng-generalisasi sikap anda, hanya sekedar melihat dan menceritakan beberapa kenyataan yang terpampang di depan mata)
Ini yang harus menjadi perhatian untuk “merawat” pertemanan kita, ada beberapa hal yang sebenarnya seringkali membebani dan cenderung memaksakan diri. 


PAKAI BAJU, TAS, SEPATU, ASESORIS YANG SENADA


Okelah kalau sedang memiliki warna, motif pakaian yang telah ditetapkan “geng” kita.TIDAK ADA MASALAH
Heiiii......Itu berlaku untuk satu geng saja. 
Bulan 1 dresscode bertema merah biru, bulan 2 DC motif shabby, bulan 12 DC warna hitam dan bertas merah merk terkenal tertentu…. 

Lah kalo ngga punya? Ya harus beli….datang tanpa menggunakan DC biasanya akan menjadi bahan bully nyinyir teman-teman se genk

“Ah masa begitu saja repot Jeng, tinggal beli aja loh”
“berapa sih gaji suamimu sampai nggak mampu beli baju, cuman sebulan sekali loh”


Semudah itukah membebani pikiran kita untuk bergaya hidup konsumtif?
Semudah itukah mengatasi “rasa” jengah yang seringkali timbul ketika orang orang  melihat kita bersama “geng” menggunakan pakaian/tas/sepatu/asesoris yang nyaris sama warna/motif?

Lhah itu hanya acara arisan, belum lagi nanti bila ada salah satu anggota mau menikah, atau salah satu anggota keluarga teman “kita” ini menikah atau sunatan, maka DC akan berbeda pula. Pusing Tak?



"Kumpul-kumpul"  DI RESTO YANG RELATIF MAHAL DAN INSTAGRAMABLE

Menjaga silaturahmi melalui arisan hanyalah menjadi sumber kesenjangan sosial dengan pribadi, sekelompok lainnya (catat : hanya untuk yang dirinya memiliki genk , genk yang merasa eksklusif, kalau arisannya murni untuk silaturahmi ya tidak apa apa bukan? ). 


Mengapa? Ketika anda mengunggah gambar /foto bersama rekan-rekan ketika sedang berkegiatan tentunya tidak bisa terhindarkan untuk saling berlomba mengabadikan makanan/minuman yang dipesan saat arisan, atau bahkan berfoto bersama di salah satu sudut tempat pertemuan yang tentunya instagramable (ho…ho tak terbayang menariknya , bukan).


 Cobalah untuk respect dengan lingkungan sekitar, masih ada banyak orang yang membutuhkan bantuan. Jadi bagaimana dengan anda yang justru tak segan-segan membayar mahal makanan dan minuman bahkan kadang seringkali tak termakan dan terbuang, sedangkan di luar sana, banyak yang belum pernah sekalipun merasakan makanan yang anda santap.


Belum lagi bila ada rekan anda menang arisan, lulus sarjana, suami naik jabatan, maka acara kumpul-kumpul membuat anggota yang bersangkutan wajib traktir traktir .

bukan soal hitung-hitungan, tapi mengapa hal ini jadi kebiasaan yang cenderung “memaksa” teman kita.(baca : mengemis minta traktir )

 Okelah bila kondisi ekonomi teman sedang stabil, kalau sedang carut marut kemudian malu untuk menolak, maka genk anda sudah masuk genk sandiwara , bukan? Jadi maukah anda mempertimbangkan kembali gaya hidup satu ini?


MENJAUHI DAN MEMBICARAKAN ORANG LAIN YANG TIDAK MASUK GENG

Kalaulah kegiatan kumpul-kumpul kita ini diwarnai dengan bakti sosial, mengunduh ilmu bersama, bertukar pikiran tentang pendidikan anak anak, atau sekedar membuka cooking/ beauty class kecil-kecilan sih oke oke saja.

Tapi…….seringkali malah mengarah ke “ngegosipin” orang lain yang jelas-jelas tidak masuk genk kita. Gossip baik atau jelek tetap patut dihindari…ngomongin orang lain dibelakangnya adalah kejahatan. Belum lagi ditambah keinginan untuk merasa eksklusif, selain genk anda mutlak dijauhi…..(ho…ho….tanyakan pada lubuk hati yang paling dalam, apakah anda pantas merasa eksklusif?)

Hmmm….ini hanya sebagian kecil dari beberapa hal yang saya rasa tidak patut untuk dijadikan contoh dan kebiasaan.

Menjaga silaturahmi, merangkul pertemanan sebanyak banyaknya memang wajib, tapi apakah harus menyiksa diri atau orang lain hanya karena ingin dilihat eksklusif dan kompak? apakah harus semahal itu untuk menjadi teman bahkan sahabat? harus melakukan hal tersebut? harus??

 Jadilah sahabat yang bersahabat, jadilah teman yang saling menjaga dan melindungi….

Kamis, 04 Januari 2018

Bagaimana Membangun Kecerdasan Sosial Anak? (1)




Perilaku masyarakat masa kini tidak terlepas bagaimana dahulu anak-anak yang sekarang telah dewasa dibangun kecerdasan sosialnya.
Ketidakmampuan orang tua, lingkungan sekitar bahkan tempat belajar membangun kecerdasan sosial anak, maka dapat diprediksi bagaimana kerusakan mereka di masa depan. 


WE TEACH WHO WE ARE
Orangtua, lingkungan sekitar yang memberikan contoh kebaikan, kecerdasan sosial yang tinggi secara tidak langsung akan mengajak anak melakukan hal yang serupa. Namun bila lingkungan bahkan orang tua acuh tak acuh bahkan enggan untuk menumbuhkan contoh kebaikan atau menyuburkan kecerdasan sosial dalam dirinya maka, itulah yang akan terjadi pada anak-anak kita 15 hingga 20 tahun kedepan. 


MENUMBUHKAN CINTA PADA KEBAIKAN
Melatih anak-anak memiliki rasa empati dan mau ikut serta merasakan kesulitan orang lain hingga memberikan pertolongan adalah hal termudah menumbuhkan cinta dengan perlahan dalam sanubari mereka. Tak usah muluk-muluk…….mengajaknya makan bersama dengan anak-anak yatim atau sekedar berbagi mainannya , bisa melatih mereka memiliki empati yang cukup dalam terhadap sesama.


MEMAHAMI BAHWA KEBAIKAN ITU ADA DALAM TIAP HATI MANUSIA……………………………..Lanjut (2)

Senin, 04 September 2017

eksis or sok eksis, sosialita or soksialita

Belajar dari kasus pembunuhan karyawan BNN di Lido, selayaknyalah kita harus introspeksi diri. Benar-benar bertanya dan menjawab dengan jujur pada diri kita sendiri.
Ya….Saat kebutuhan untuk eksis makin meradang
Silakan introspeksi diri

Mampukah anda mengikuti gaya hidup sosialita?
Wanita yang awalnya hidup dengan sederhana, apa adanya, cantik alami, bersahaja , namun karena tekanan untuk eksis, lama kelamaan benteng pertahanannya pun akan jebol
Sedikit demi sedikit ia akan mulai gemar berdandan (bagus kan)
Sedikit demi sedikit ia akan mulai gemar mengkoleksi pakaian-pakaian branded dengan alasan agar mudah mix and match dan terlihat serasi
Sedikit demi sedikit ia akan mulai gemar berbelanja tas dan memajangnya di satu lemari khusus
Sedikit demi sedikit ia akan mulai menginginkan memiliki mobil mewah seperti rekan-rekan sosialitanya
Sedikit demi sedikit ia akan merengek pada suami untuk pindah ke area pemukiman yang lebih elit
Namun…..
Sadarkah anda?
Kadangkala keinginan untuk memiliki hal-hal yang sedikit sedikit itu justru sedang mengikis sedikit demi sedikit waktu anda untuk bercengkerama dengan anak, suami, dan keluarga besar
Keinginan yang sedikit demi sedikit itu justru sedang mengikis pertahanan suami mencari nafkah yang halal demi memenuhi rengekanmu
Keinginan yang sedikit demi sedikit itu justru sedang mengikis rasa kepercayaan diri anak akibat jauh dari ibunya yang semakin hari semakin sibuk dengan pertemuan ini itu
Keinginan yang sedikit demi sedikit itu justru mengikis kesantunanmu pada pasangan, anak-anakmu, keluargamu bahkan mungkin lingkungan tempat tinggalmu. Keinginan untuk selalu eksis itu telah memupuk rasa percaya diri yang berlebihan hingga seringkali membuat anda lupa menghiasi hati anda dengan kelembutan, kebersahajaan, dan keimanan.
Eksis lah dengan kemampuan yang sesuai dengan jati dirimu
Eksis dengan ilmu yang kamu miliki tentunya akan bermanfaat bagi lingkunganmu
Eksis dengan kesantunanmu, kelak akan merubah yang buruk menjadi lebih santun
Hilangkan rasa tidak percaya diri bila anda tidak dapat mengikuti gaya hidup orang lain atau kelompok yang sedang anda ikuti saat ini
Hilangkan rasa takut karena dicecar , malu dan tersisih karena anda tidak mau mengikuti gaya hidup mereka
Hidup bersahaja akan jauh lebih tenang, nikmat dan santun bagi sekeliling kita
Ketika anda ingin eksis layaknya sosialita yang sedang berkelebat di depan mata, sebenarnya suatu hal yang wajar bila anda harus :
1. Berpenghasilan besar sehingga anda bisa menghidupi gaya hidup nongkrong dari café ke café , dari resto ke resto atau dari hotel ke hotel (bintang lima ya !!). harus siap traktir sana, traktir sini, belanja dagangan teman karena bila tidak anda bisa-bisa dimusuhi #loh kok
2. Berselera tinggi. Why….ketika anda ingin eksis, wajar bila beberapa kali pertemuan menggunakan aturan dresscode yang tentunya mengikat bagi semua anggotanya. Bila anda mencari pernak-pernik pelengkap dresscode mulai dari ujung kaki hingga kepala masih diwarnai keinginan membeli barang “SALE”, maka buang jauh-jauh keinginan menjadi sosialita. Mau eksis kok cari barang sale ?
3. Bahasa tubuh dan sikap yang berkelas. Mau disebut sosialita tapi saat ngumpul ketawa ketiwi “ngakak” #eh ngga ada control? Euww…rugi lah. Mau disebut sosialita tapi saat dapat giliran berbicara didepan teman se-eksis malah milih ngacir karena ngga pede lah, takut lah atau memang tidak bisa. Mau disebut sosialita namun ketika emosi terpancing hanya karena masalah sepele, lalu anda bebas sekehendak hati bersikap, marah , memaki-maki bahkan kadang justru brutal merusak atau yang paling ringan lah gejolak emosi untuk membully teman se-eksisan karena tidak mampu mengikuti gaya hidup yang ditetapkan dan pada akhirnya memusuhinya. Euuhhh…bocah banget itu mah
4. Berwawasan luas. Why…sosialita tak hanya berkegiatan arisan atau belanja belanji bareng ya. Ngga rame banget! Otak kita tumpul di tempat dan sangat merugi bila saat ngumpul ala-ala sosialita , seringkali kita ngga nyambung dengan topik pembicaraan dengan sesama sosialita. Ya iyalah, masa kita Cuma ikut ketawa ketiwi doang, makan-makan bareng, namun tidak memiliki topic percakapan yang berkualitas untuk didiskusikan. Mutlak bagi sosialita “beneran” untuk mengunduh berbagai macam pengetahuan sehingga ketika kita diajak ngobrol A – Z tetap bisa nyambung.
So kembali lagi pada diri kita….
Mampukah eksis atau hanya sok eksis?

Jumat, 16 Juni 2017

Mudik, lepas penat dimana?




Yang tak terhindarkan ketika melakukan perjalanan mudik dengan mengendarai kendaraan bermotor pribadi adalah rasa lelah. Entah itu rasa kantuk, penat, yang bercampur haus karena suhu udara yang kurang bersahabat selama melakukan perjalanan mudik. Baik anda yang memilih untuk melakukan perjalanan mudik siang atau malam tentunya harus memperhatikan alarm biologis tubuh untuk beristirahat. Dengan demikian kecelakaan selama masa mudik dapat diantisipasi dengan menurunkan angka kelelahan pengendara. Mengapa? Kelelahan selama mengendarai kendaraan bermotor tentunya akan menurunkan angka konsentrasi. Reflek untuk menghindar dan mengantisipasi bahaya di jalan tentunya akan lambat sehingga bisa saja membahayakan jiwa anda sekeluarga dalam kendaraan mudik bahkan membahayakan jiwa orang lain. Untuk itu sepanjang perjalanan, setelah 3-4 jam mengendarai kendaraan bermotor, sebaiknya anda meluangkan waktu untuk beristirahat sejenak di rest area. “tidur-tidur ayam” atau bahkan tidur sejenak barang 1 jam bisa cukup untuk menghilangkan kelelahan dan meningkatkan konsentrasi selama perjalanan. Lalu dimana saja anda dapat memberhentikan kendaraan dan beristirahat?
1.       Masjid/tempat ibadah
Selama musim mudik dan balik, masjid menjadi pilihan bagi pemudik motor atau mobil untuk beristirahat. Selain untuk menunaikan ibadah, istirahat, atau sekedar mengisi perut para musafir, biasanya masjid saat musim mudik tersedia air cukup dan memiliki halaman yang cukup aman untuk parkir mobil atau anak-anak bermain di halaman.

2.       Sekolah
Bila anda melalui jalur mudik/balik pantura , maka sepanjang perjalanan akan menemui banyak sekolah yang memiliki halaman cukup luas untuk parkir kendaraan. Disana juga biasanya akan tersedia sewa tikar untuk sekedar ‘selonjoran’, toilet, kantin bahkan tukang pijit pun juga ada. sama halnya dengan masjid, sekolah yang berhalaman luas tentunya relatif aman untuk parkir kendaraan dan melepaskan anak-anak bermain sehingga penatnya hilang.

3.       Rest area jalan tol
Pada rest area jalan tol yang telah disediakan oleh pengelola jalan tol tentunya telah dilengkapi oleh rumah ibadah (mushalla/masjid), toilet dan kantin. Sama hal nya apabila kita berhenti di masjid dan sekolah , maka kita mendapati kantin dan tukang pijat, namun perlu anda ketahui, disini kita tidak dapat berlama-lama. Idealnya 30 menit berhenti maka anda harus segera melanjutkan perjalanan agar pengguna jalan tol lainnya dapat menggunakan rest area jalan tol pula. Jangan sampai terjadi seperti tahun 2016 dimana rest area jalan tol palikanci hingga brexit dipenuhi oleh pemudik yang berlama-lama di sana sehingga pemudik lainnya harus menghentikan kendaraannya di sepanjang bahu jalan tol untuk beristirahat. Selain mengancam jiwa anda sekeluarga hal tersebut juga membahayakan jiwa orang lain dan tentunya MACET

4.       Jembatan timbang
Di area jembatan timbang biasanya relative sepi karena fasilitasnya yang terbatas. Misalnya toilet yang tersedia hanya 2-3 pintu, kantin yang kurang variatif bahkan dari pengalaman saya ber-mudik selama hampir 10 tahunan, tak jarang musholla nya kehabisan air. Namun , bila anda memang benar-benar lelah. Segera belokkan kendaraan anda ke area rest area jembatan timbang. Jangan tunggu lelah sangat mendera sehingga kantuk dan celaka yang menghadang.  

5.       Restoran, tempat makan
Sambil mengisi perut. (meski masih masuk bulan ramadhan, para musafir, pemudik memilih untuk tidak berpuasa dengan tujuan untuk menjaga stamina) tentunya di area ini anda dapat beristirahat sejenak. Mata yang “spanneng” karena melihat kendaraan dan kendaraan, dapat beristirahat . tak hanya mengisi perut, anda juga dapat beristirahat sejenak , meluruskan punggung di area-area yang biasanya telah disediakan oleh pemilik rumah makan. Disini pula tak jarang anda dapat pula menunaikan ibadah .

6.       Rumah warga
Halaman rumah warga yang luas biasanya akan dibuka bagi pemudik yang menggunakan sepeda motor untuk melepas lelah di teras rumah yang disediakan warga. Fasilitas disini tentunya terbatas karena memang hanya menyediakan halaman sebagai tempat parkir kendaraan sembari pemiliknya beristirahat / memejamkan mata.

7.       Hotel
Ini pilihan terakhir  saya bila bermudik dari bandung ke Malang yang menempuh jarak 1100 km-an. Biasanya saya akan menghentikan kendaraan di tengah perjalanan antara bandung –malang ketika senja telah terlihat. Tempat favorit saya sih Kudus dan selama Ini memang selalu memilih bermalam di kudus dimana banyak hotel yang cukup bersahabat untuk pemudik yang membawa keluarga baik dari segi harga maupun fasilitas. Istirahat semalam untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya jauh lebih aman untuk menjaga stamina. Bagaimana dengan anda? Bila memungkinkan juga dapat memilih cara saya ini. Anggaplah mudik ini rekreasi, dibawa bahagia, alhasil kelelahan berat sirna dan kita tetap segar tiba di rumah sanak saudara. 

Jumat, 09 Juni 2017

Aku ingin (anakku) sukses



1 bulan  ini mungkin ada di antara kita sebagai orang tua sempat disibukkan dengan ulangan, ujian, atau penilaian akhir semester/sekolah dari anak-anak kita
Mungkin ada diantara anda menaruh harapan agar anak mendapatkan nilai terbaik di antara teman-temannya (sehingga) ada dapat menjadikan anak anda sendiri sebagai komoditi kebanggaan diri
Wajar, bila sebagai orangtua berharap agar anak-anak kita memiliki prestasi yang sangat baik dibandingkan lainnya dengan persepsi bahwa nilai akademik saat ini akan berpengaruh dan menentukan kesuksesan  anak melanjutkan jenjang yang lebih tinggi
Namun apa jadinya bila hanya karena harapan anda, anak menjadi hilang kepercayaan diri karena akhirnya nilai yang didapat tidak sesuai harapan anda
Sayapun tidak memungkiri memiliki harapan yang sama terhadap anak
Saya ingin memiliki anak yang berprestasi
Tapi apa jadinya bila kepercayaan dirinya hilang
Ada satu kalimat yang seringkali saya singgung saat anak menghadapi ujian atau kesulitan lainnya
“Bunda berharap agar kakak memiliki keinginan untuk tetap berusaha, tekun, jujur dan percaya bahwa Allah selalu mendampingi”
Apa yang terjadi ketika beberapa waktu lalu , kakak mendapatkan nilai 60 untuk satu mata pelajarannya?
Jelas dalam hati saya kecewa. Namun semua saya tepis. Ia sudah berusaha. Ia sudah mau belajar. Dan ia sudah mau jujur. Saya hanya mampu berkata, “ asal kakak mau memperbaiki, mau tetap berusaha dan jujur”
“ iya Bun. Aku sudah usaha tapi aku  paling nggak suka kalau saat ulangan ada yang saling Tanya jawaban soal , contek-contekan gitu, Bun”
Weeewww…..kalau seusia anak kelas 3 SD saja doyan nyontek, bagaimana nanti bila menjadi abdi Negara? Orangtua mana sih yang tidak ingin memiliki anak yang pintar hingga bisa menraih peringkat satu atau minimal 5 besar ? kalaupun anak kita belum mampu mencapainya mengapa harus menekan dan memaksakan anak untuk mewujudkan impian kita? Saya hanya beranggapan bahwa kelak orang-orang yang mau berusaha, tekun dan jujur bisa survive menjadi seseorang yang layak menjadi panutan sehingga mampu bertanggung jawab atas perilakunya di tengah-tengah masyarakat. Kejujuran yang ditanamkan dengan pondasi yang kuat akan membangun tanggung jawab bahwa apa yang ia lakukan tak hanya untuk dirinya, namun juga orangtua, keluarga besar, masyarakat dan tentunya Allah . perlahan namun pasti kepercayaan dirinya akan tumbuh sehingga keinginan berprestasi itu tumbuh dari dirinya sendiri, dengan demikian anak tentunya mau berpikir atas apa yang dilakukannya, mengasah kesadaran atas konsekuensi yang dilakukannya sehingga mampu mencari dan memilih dari berbagai solusi-solusi masalah yang dihadapinya. Namun, satu yang penting ya Mom, Pap….tetap dampingi mereka membangun impiannya ya…
Kejujuran dan tanggungjawab layak menjadi satu tolok ukur kesuksesan seorang anak ya mam, Pap..

Rendang Kemasan Pilihan Praktis Di Kala Haji

Musim Haji telah Tiba Apakah Tahun Ini Giliran Anda Untuk Berangkat Ke Baitullah? Atau Giliran Orangtua, Kerabat, Tetangga? Su...