Minggu, 28 September 2014

akhirnya momen itu datang juga...


"Bunda, aku sudah berani, ngga usah ditungguin lagi di depan kelas. Bunda tunggu aja di depan sekolah. nanti kalau ada patung* lagi, fadhiil mau lawan pake doa dan jurus bima X"



alhamdulillah. terharu Bunda mendengarnya. momen ini akhirnya datang setelah hampir 2 bulan memulai sekolah di tingkat sekolah dasar. kemampuan indera keenam yang dimiliki Fadhiil selama ini ternyata baru dapat sangat dirasakan dampaknya saat masuk sekolah baru.
hampir dua bulan, setiap hari, saya dan suami harus berbagi perhatian dengan apa yang dialami fadhiil
menangis sepanjang perjalanan belajarnya di kelas, mematung bahkan ditambah pula pandangan ketakutan pada satu titik.
saat itu, saya merasa ada di titik terendah dengan apa yang fadhiil alami dan ceritakan.

"Bunda, itu patungnya ada lagi"
"Bunda, patungnya pakai kursi fadhiil. mau duduk dimana fadhiil?"

patung adalah sebutan fadhiil kepada makhluk lain dunia yang ia lihat. bunda tak bisa apa-apa Nak saat itu. Bunda hanya bisa mendoakannmu semoga fadhiil segera memiliki keberanian untuk menghadapi 'patung' yang ia lihat.

menggelar pengajian, ruqyah, sedekah sudah kami lewati, namun ternyata kemampuannya makin tajam. Bunda dan ayah semakin kebingungan menghadapimu saat itu. dititik kepasrahan itulah, tiba tiba fadhiil mengungkapkan bahwa ia lebih berani.

semoga apa yang telah terjadi di masa kecilmu kini membuatmu semakin kuat dan teguh menghadapi pasang surutnya kehidupan nantinya. Bunda hanya memiliki sejumput doa agar fadhiil bisa menjadi anak shaleh, menjadi pemimpin teladan di masa depan, sehat dan kuat lahir batin. aamiin.....

Jumat, 19 September 2014

“mon etobi’ sake’ ajje’ nobi’ oreng laen”




                Sebuah adagium yang membuat saya selalu belajar, introspeksi diri dan menahan diri. Adagium yang selalu orangtua saya tanamkan semenjak saya masih kecil. Saya terlahir dari kedua orangtua yang berdarah Madura asli  namun semenjak kecil saya harus dan mau tidak mau belajar tentang Budaya Jawa. Tempat dimana kedua orangtua saya merantau semenjak saya masih sangat kecil.
            Merantau, jauh dari kampung halaman namun disinilah di pulau Jawa, saya menuntut ilmu, menghirup nafas, bersosialisasi bahkan Ayah sayapun menuntut saya dapat berbahasa Jawa Halus (kromo Inggil) dalam percakapan sehari-hari. Lucu?pasti! saya  berdarah madura Asli tapi bila nilai bahasa daerah saya di sekolah hanya bisa mencapai nilai 6, maka terbayang murka ayah semenjak saya mendapatkan hasil ulangan tersebut. Tak sedikitpun percakapan bahasa Madura diterapkan dalam keluarga saya saat itu.  Semua anggota keluarga bahkan hingga asisten rumah tangga menggunakan bahasa Jawa yang begitu kental dalam bahasa sehari-hari. Begitu tersiksanya saya saat itu. Dipaksa menggunakan bahasa daerah yang bukan bahasa saya. Namun pembiasaan orangtua dan kondisi lingkungan yang mempu membentuk saya untuk perlahan mencintai Budaya Jawa meski tetap tak terpisahkan dengan adat istiadat Madura. 


                Mengikuti kursus menari dan menabuh gamelan merupakan salah satu cara bapak menanamkan rasa cinta budaya rantau. Pelan tapi pasti, saya memang sangat mencintai budaya Jawa. Bahkan rasanya saya bukan terlahir dari keluarga yang bersuku Madura. Hingga akhir hayat bapak di tahun 1994 pun beliau berpesan agar tetap tinggal di tanah jawa agar memperoleh kemudahan fasilitas pendidikan yang memang banyak tersedia di kota Malang tempat saya bermukim sampai tahun 2007 hingga akhirnya di tahun tersebut saya memulai hidup baru bersama keluarga kecil saya di kota Bandung. 

                 Di tahun 2007 Inilah awalnya saya mengingat-ingat kembali pesan yang sering almarhum bapak sampaikan ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Salah satu adagium orang Madura yang patut untuk didengarkan dan juga dipahami serta dipraktekkan oleh masyarakat adalah “mon etobi’ sake’ ajje’ nobi’ oreng laen” artinya kalau anda disakiti oleh orang merasa sakit, jadi janganlah menyakiti orang lain. Ini merupakan sebuah nasehat, bahwa kita sebenarnya ditentukan oleh diri kita sendiri. Kita ditentukan oleh sikap, tindakan serta ucapan kita sendiri. Ketidakmampuan kita menjaga semua ucapan serta tindakan yang ada pada diri kita, akan menyebabkan diri kita selalu penuh dengan masalah yang akan selalu mengejar-ngejar kita. 

Selalu berhati –hati. Hingga akhirnya sayapun tak bisa menghindar tersandung masalah dengan seseorang yang nyata-nyata menyimpan rasa ketidaksukaan pada keluarga kami yang notabene berdarah madura. Banyak hal yang selalu menjadi bahan sindiran, ejekan bahkan makian  yang mengarah pada membully karakter kita sebagai orang bersuku madura. Yang dikata kasar, penipu,bahkan disebutkan bila kami tak pantas tinggal di area mereka. Kondisi ekonomi keluarga kami yang saat itu terlihat jauh lebih baik daripada penghuni beberapa petak kontrakan yang lainpun menjadi bahan iri hati  hingga akhirnya fitnah tentang keberadaan saya sebagai salah seorang yang bersuku Madura. Teriris rasanya hati ini saat itu namun saya hanya bisa diam dan diam. Untuk apa saya membalas jika akhirnya sayapun akan kembali sakit. Sakit yang tak berujung. 

Kini 7 tahun setelah kejadian tersebut, banyak hikmah yang saya petik, bahwa perlunya kita menanam kebaikan meski dengan hanya menyingkirkan sebuah paku di tengah jalan ,  menjadi pendengar yang baik bahkan seperti yang saya alami yaitu membiarkan saja orang yang menyakiti saya. Tak ada yang sia-sia dengan menanam kebaikan karena kita akan memanen hasil yang berlimpah. Berusaha untuk tidak mencubit (baca : menyakiti) orang lain karena bila itu yang kita lakukan maka kelak mungkin kita akan memanen hasilnya. Kepada siapakah kita menanam kebaikan? kepada siapapun! karena tak ada yang sia-sia bila kita menanam kebaikan dan yang pasti  Jangan menyakiti bila anda tak mau disakiti.







Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati-Bahasa Daerah harus diminati
banner

Kamis, 11 September 2014

Jamu. Kembali ke alam, kembali ke ramuan tradisional Meraih derajat kesehatan yang lebih baik



Dibesarkan di keluarga yang berdarah madura yang dahulu memiliki usaha ramuan jamu madura tentunya saya tidak asing dengan aroma jamu, berbelanja bahan jamu  mulai dari secang, delima putih, kayu angin, cabe puyang dll, bahkan berinteraksi dengan pelanggan jamu yang rata-rata adalah perempuan. Menurut eyang putri keinginan cantik dan sehat itu adalah dorongan alami sebagai perempuan, namun bila wajah tak cantik maka berusaha menjadi perempuan yang enak dipandang mata dengan kebersihannya, harum tubuhnya dan tentunya sehat luar dalam. kebersihan dan kesehatan itulah yang harus ditunjang dengan meminum jamu tradisional yang merawat tubuh dari dalam dan ramuan lulur untuk menjaga kebersihan tubuh bagian luar. 

 Sekarang, tiga belas tahun setelah eyang putri berpulang, saya sangat merindukan bagaimana minum jamu ramuan tangan eyang putri plus wejangan dan banyak cerita tentang kesehatan wanita, tapi itu semua rasa mustahil. Saya hanya bisa menikmati jamu gendong atau jamu tradisional di toko jamu meski masih harus berjuang menangkal rasa pahit jamu.  

saya berharap satu saat bisa menikmati jamu tanpa harus merasakan rasa pahit dan tentunya AMAN. Inilah perlunya sebuah lembaga riset yang tanaman yang membuat sebuah produk pengembangan hasil riset.  Tak hanya membuat produk pengembangan riset berupa jamu yang berasal dari tanaman yang memiliki khasiat penyembuhan terhadap suatu penyakit, namun mudah-mudahan suatu saat nanti mengampu peracik jamu di seluruh Indonesia sehingga memiliki standar keamanan yang pasti untuk kesehatan. Kepercayaan masyarakat tak hanya pada sebuah Brand yang menaungi suatu produk, namun juga sugesti masyarakat terhadap produk jamu yang beredar di masyarakat. Siapa yang tidak kenal dengan idiom “ramuan madura”? atau “ramuan sumbawa”?.

Percaya bahwa dengan merangkul sugesti masyarakat terhadap jamu di suatu daerah, maka penikmat jamu  yang mengutamakan kesehatan akan jauh lebih memilih meminum jamu daripada selalu mengandalkan obat yang mengandung bahan kimia untuk membantu penyembuhan suatu penyakit. Inilah yang sedang dikembangkan oleh Pusat Studi Biofarmaka IPB telah menghasilkan produk yang siap dikonsumsi di antaranya adalah :

  • BIOLANGSING , PELANGSING INSTANT.  Yang bermanfaat : Meluruhkan lemak tubuh.
  • BIOURIC. Yang bermanfaat : Menurunkan Asam Urat & Anti Inflamasi
  • PHALERIA KAPSUL. Yang bermanfaat sebagai Antioksidan, dan  Menurunkan gula darah
  • GYNURA KAPSUL. Yang bermanfaat : Melancarkan Sirkulasi Darah
  • ANDROGRAPHIS KAPSUL. Yang bermanfaat : Menurunkan Kolesterol & Gula Darah
  • MORINDA KAPSUL. Yang bermanfaat: Menurunkan Tekanan Darah, Anti Kanker

serta produk-produk lain: yaitu Minuman Instant: Gano Instant rasa jahe & jeruk,Permen: Permen Kayu Putih, Permen Temulawak, Kapsul Ekstrak Campuran: BioDiabet, BioHepa, Gano Tea, Kapsul Ekstrak Tunggal yang berisi Ganoderma, Pegagan, Meniran, Daun Sendok, Daun Dewa, Sambiloto, Brotowali, Simplisia tanaman obat berkhasiat dan Ekstrak tanaman yang berkhasiat fitoestrogen


lagi-lagi dengan adanya produk di atas, kita harus memikirkan agar masyarakat kembali lagi ke alam dengan mengkonsumsi jamu. Perlahan, masyarakat mulai tidak percaya dengan produk jamu sehingga mungkin saja satu saat nanti jamu yang seharusnya menjadi brand Indonesia justru diakui milik negara lain (relakah anda?tentu tidak!). dalam hal ini pemerintah hendaknya :

1.      membantu, mengarahkan, memberikan penyuluhan dan mengawasi pengusaha jamu tradisional untuk mengikuti standar kesehatan dalam pemrosesan jamu sehingga benar-benar menggunakan produk alam tanpa bahan kimiawi apapun seperti banyak terjadi pada produk jamu saat ini sehingga masyarakat luas memiliki anggapan bahwa mengkonsumsi jamu tidak aman karena banyak produk jamu aspal.


2.      Menjadi jembatan antara pengusaha jamu skala kecil dengan pengusaha jamu berskala besar sehingga dapat bekerja sama untuk memproduksi jamu dengan standar kesehatan, kemasan yang menarik dan rasa yang nikmat. Dengan meningkatnya produksi dan penjualan ini, tak hanya menguntungkan bagi pengusaha besar namun juga diharapkan meningkatkan perekonomian pengusaha jamu skala kecil.


3.      Meningkatkan edukasi kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan
mengkonsumsi produk-produk jamu atau menanam tanaman obat keluarga (TOGA) di rumah sehingga tak selalu mengandalkan produk obat yang mengandung kimiawi. Selain mudah, murah tentunya aman.
4.      Memberikan sanksi yang sepadan bagi pelaku usaha bidang jamu curang yang memproduksi jamu aspal, asli tapi palsu. 




ya, mudah-mudahan satu saat nanti saya bisa menikmati jamu tradisional lainnya (tentunya jamu ramuan madura pula ya..masa kita kalah dengan sapi,kambing bahkan ayam madura yang selalu teratur minum jamu) tanpa harus ketakutan mengkonsumsi jamu aspal yang saat ini banyak beredar. Alam begitu baiknya menyediakan bahan-bahan sebagai bahan pendukung kesehatan kita. Kembali ke alam, kembali ke ramuan tradisional untuk mendapatkan derajat kesehatan yang jauh lebih baik.



Sabtu, 06 September 2014

Bunda Rindu, Dhiil





Nak....
entah apa yang akan Bunda katakan lagi pada Fadhiil
Bunda rindu pada riangmu,
rindu pada banyak curhat mu
rindu pada banyak ceritamu
rindu pada tawamu yang dulu
rindu pada candamu yang dulu
hanya pada Allah, bunda mengadu tentangmu
segera pulih ya Nak

Surat Cinta Fadhiil di usia 5 tahun pada Ayah Bunda


kita semua, Ayah, Bunda dan Fadhiil harus sama-sama kuat
percayalah Nak
hanya pada Allah kita meminta pertolongan
hanya pada Allah kita berharap
yakinlah bahwa Allah sangat mencintai kita sekeluarga saat ujian ini berada di depan mata
tangismu adalah tangis Bunda
meski Bunda hanya dapat merajuk pada Allah karena Bunda tak ingin Fadhiil melihat begitu hancurnya Bunda saat mengerti Fadhiil mengalami hal yang sama seperti halnya Bunda alami di masa kecil.
tangan Bunda akan selalu merengkuhmu Nak,  Hati  dan jiwa Bunda akan selalu berusaha membuatmu merasa aman sampai akhir hayat Bunda nantinya...
 -------------------------------------------------------------------

Tak ada yang mampu menolak anugerah atau bencana yang datangnya dari Sang Pemilik Segala Allah SWT
hanya rasa syukur yang akan membuat kita bangkit dan mampu bertahan
setiap anak memiliki kelebihan, setiap anak memiliki kekurangan
Indigo bukanlah penyakit atau kutukan namun satu kelebihan yang Allah berikan pada manusia agar manusia lainnya makin dekat dengan Allah, makin sadar dengan pentingnya bersyukur

Rendang Kemasan Pilihan Praktis Di Kala Haji

Musim Haji telah Tiba Apakah Tahun Ini Giliran Anda Untuk Berangkat Ke Baitullah? Atau Giliran Orangtua, Kerabat, Tetangga? Su...