Senin, 18 April 2016

buku baru ke 2 di tahun 2016

alhamdulillah
bersyukur sekali di bulan April ini naskah buku yang saya tabung di tahun 2015 bisa terbit di tahun 2016.
meski saat ini masih naik cetak namun teman cantik saya dari penerbit Grasindo yaitu Mbak Mira Rainayati memberikan bocoran cover buku terbaru saya.

promosi cantik akan dimulai dengan kuis dulu setelah buku edar di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya di seluruh Indonesia.bismillah


Jumat, 08 April 2016

buku baru semangat baru

Alhamdulillah
ada kado indah di bulan ini
selain penghasilan bisnis online yang makin meningkat. eh...tiba-tiba dikabarin kalau buku terbaru saya sudah terbit.

buku ini termasuk ke dalam golongan buku pengembangan sumber daya manusia.
ada beberapa contoh formulir yang biasanya akan ditemui pelamar dalam melamar pekerjaan atau bahkan bagi yang menginginkan berkarir di bidang pengembangan SDM (baca : HRD) maka akan menemui beberapa formulir penilaian kinerja.

jatuh bangun dalam menyelesaikan naskah buku ini karena sempat sakit yang memaksa saya harus menjauhi meja kerja dan bedrest. menjauhi meja kerja jelas bukanlah hal yang menyenangkan buat saya apalagi yang berhubungan dengan pekerjaan yang berkaitan erat dengan latar belakang pendidikan saya selama menempuh magister.

berminat ?
hayuuk atuh beli buku saya ya.....
--haha--promosi
ini penampakannya ya..



hargai diri anda dengan prestasi dan usaha dari diri sendiri



alhamdulillah , saya belum pernah merasakan mencoret-coret baju dengan spidol atau pilox. rasanya kok terlalu lebay melakukan semua itu. pikir saya saat itu adalah masa depan saya masih panjang, ibu yang sendirian membiayai hidup saya juga sudah terlihat kesulitan mencari biaya. pulang dari kelulusan sendirian, menjauh dari hiruk pikuk hura-hura. mencium tangan ibu dan melakukan kegiatan di rumah seperti biasanya. Sedangkan anak-anak sekarang banyak yang melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Konvoi di jalanan dengan kendaraan bermotor yang tentunya memboroskan bbm, mencoret-coret seragam yang mungkin seragam tersebut dibeli orangtuanya dengan susah payah. Kok tega mereka melakukan semua itu?
Saya bersyukur bisa diterima di universitas negeri di Malang jauh sebelum pengumuman kelulusan terdengar. Beasiswa penuh sampai lulus juga sudah di tangan. Minimal beban ibu agar saya bisa melanjutkan ke perguruan tinggi sudah berkurang.  Tinggal berpikir bagaimana saya bisa memiliki sedikit uang jajan kala kuliah. Pendek cerita, ketika masa kuliah seringkali beasiswa tak turun tepat waktu sehingga kadang pembayaran spp harus nombok dulu…hhh….tapi ada hikmahnya, saya tidak bisa berleha-leha. Berjualan asesoris, bros, menerima terjemahan, pengetikan, menulis di media ataupun jualan kosmetik saya jabanin asalkan halal. Ini saya lakukan tanpa sepengetahuan ibu (meski saat ini ibu akhirnya tahu setelah belasan tahun berlalu) karena saya tidak ingin membebani beliau bahwa yang namanya kuliah tidak hanya sekedar bayar spp, beli buku dan ongkos transport. Saya membutuhkan uang untuk sewa computer karena saat itu belum memilikinya, saya butuh uang untuk fotokopi beberapa bahan kuliah, bahkan membayar sewa internet yang saat itu membutuhkan uang Rp. 6000-7500/jam. Semua itu saya penuhi dengan berbagai cara hanya agar ibu bisa merasa ringan tak terbebani urusan non teknis perkuliahan.
Alhamdulillah, meski prosesnya berat, kadang harus pulang larut malam karena menyelesaikan terjemahan di tempat rental computer, akhirnya saya bisa meraih prestasi sebagai mahasiswa berprestasi. Lagi-lagi saya bisa menghadirkan senyuman ibu. Senang sekali melihatnya tersenyum dan binar-binar di bola matanya terlihat kembali. Tidak ada yang sia-sia bila kita berusaha. Tak sampai 4 tahun saya dapat menyelesaikan gelar sarjana.
Pulang wisuda, tidak ada acara foto bersama ibu atau adik seperti wisudawan lainnya
Tidak ada acara makan-makan seperti wisudawan jaman sekarang
Saya harus kembali ikat pinggang karena lolos diterima di program pascasarjana Brawijaya Malang.
Kegiatan bersenang-senang harus di-skip. Saya harus bekerja sebagai dosen, sekaligus penerjemah dan sesekali berjualan disela-sela saya menempuh pendidikan magister. Ketika ada beberapa teman bersenang-senang mengisi waktu senggang kuliah dengan makan-makan, jalan-jalan rekreasi ke beberapa tempat wisata, saya hanya kembali berjibaku dengan orderan terjemahan yang makin menumpuk ditambah sedikit jadwal mengajar. Ya Allah, saya seringkali berjibaku dengan deadline dari customer terjemahan. Rasanya kaki hingga kepala kembali ditusuk jeruji besi ketika deadline sudah makin dekat. Namun Alhamdulillah, sedikit demi sedikit mulai dari recehan 20 ribu hingga ratusan ribu bisa saya kantongi dalam seminggu. Tanpa iklan, tanpa media sosial yang saat itu belum ada. semuanya karena getok tular alias dari mulut ke mulut. Apa hikmahnya? Saya mendapat penghasilan, banyak belajar dari orderan terjemahan karena saya menerjemahkan tidak mengandalkan alat penerjemah otomatis dari computer, melainkan membaca terlebih dahulu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya dari bahasa Indonesia ke bahasa inggris. Tidak ada satupun teman dari satu program studi yang mengetahui saya melakoni pekerjaan tersebut. Semuanya berkat salah seorang teman dari jurusan lain yang memanfaatkan jasa saya kemudian menyebar luas kepada teman-teman seangkatannya. Allah mengurangi jatah saya di satu bagian namun melebihkan di bagian lain sehingga bisa bermanfaat bagi orang lain dan tentunya diri saya hingga kini. Alhamdulillah setelah 14 tahun terbiasa dengan ritme deadline, Allah memberikan rezeki baru untuk saya sebagai penulis buku. Kembali lagi berkutat dengan banyak buku sumber, deadline disela-sela jadwal mengajar. Semuanya berproses, semuanya ada hikmah, doa kita bukan tidak dikabulkan namun kita harus menikmati proses menuju doa yang terkabulkan, hanya rasa syukur yang membuat kita ingat bahwa Allah telah mengatur segalanya agar kita dapat bermanfaat bagi diri, keluarga dan sesama melalui banyak liku dan proses baik suka maupun duka.

so, buat muda-mudi sebaiknya hargailah diri sendiri. lakukan hal positif yang bermanfaat buat orang lain. bersenang-senang yang justru mengganggu kepentingan orang lain demi nafsu menunjukkan eksistensi dengan cara apapun bukanlah hal yang patut dilakukan.
masih banyak muda-mudi lainnya yang harus berjuang untuk meraih cita-citanya tanpa harus mengandalkan jabatan orang tua atau keluarga besarnya
menghargai diri sendiri dengan usaha nyata dan murni dari diri merupakan satu pilihan yang harus jadi prioritas
orang-orang akan jauh lebih menghargai anda daripada harus terus menerus menggantungkan diri anda pada jabatan orang tua sementara anda sendiri sok-sok an menjadi jagoan padahal nol 

----belajar dari kasus pelajar yang mengaku anak kapolda riau dan menghardik polwan dengan arogan-----

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...