Selasa, 02 Desember 2014

perlukah belajar etika bisnis?


tak hanya pandai mengurai kata, menjalin kalimat untuk meningkatkan omset penjualan. namun, seseorang yang telah berkomitmen untuk terjun di dunia bisnis tetap harus memahami etika bisnis.
persaingan, kejujuran pemasar wajib dipelihara karena nantinya konsumen akan menilainya cepat atau lambat.
bila anda sudah tak jujur tentang informasi produk, waktu distribusi bahkan informasi pesaing , tentunya anda akan menuai hasilnya baik atau buruk.

 lalu apa yang harus kita perhatikan dalam bisnis yang beretika?

Pengendalian diri dan menciptakan iklim persaingan yang sehat
pernahkah anda menemui pebisnis yang menawarkan produknya didahului dengan mendiskritkan lawan bisnisnya? akan jauh lebih elegan bila anda menawarkan keunggulan produk  tanpa didahului oleh cara buruk yang sebelumnya saya kemukakan. 

mengembangkan tanggung jawab sosial
apakah produk/jasa  yang anda tawarkan benar-benar bermanfaat? jangan sampai ada unsur pemaksaan secara halus atau terang terangan dalam menawarkan produk. bukankah anda juga akan merasa tidak nyaman bila berada di posisi konsumen bila mengalami hal tersebut. 

mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah
jujur jujur dan jujur tentang produk/jasa yang anda tawarkan. 
 
menumbuhkan kepercayaan dengan konsumen dan pesaing bisnis
 maukah anda punya musuh hanya gara-gara anda menyalahgunakan kepercayaan konsumen dan pesaing bisnis. jadi bila anda kurang suka dengan konsumen atau pesaing bisnis anda, berusahalah untuk menjauhkan ucapan anda yang terkesan menjelek-jelekkan secara pribadi terhadap keduanya. cepat atau lambat sikap anda akan dinilai oleh orang lain. bersaing sehat akan jauh lebih elegan dan pelanggan akan datang dengan sendirinya. jangan campur adukkan masalah pribadi, emosi pribadi dengan bisnis yang anda jalankan. percayalah anda sendiri yang akan memetik hasilnya.

 
Jika momentum lepas, dukungan bisa berubah jd perlawanan, simpati berubah jd antipati. Waspadai kenyataan ini

Minggu, 30 November 2014

Jembatan Suramadu Karya spektakuler mendongkrak ekonomi, sosial dan budaya pulau Madura nan eksotis

Suramadu di malam hari 








Siapa yang tidak kenal jembatan Suramadu?
jembatan yang melintasi selat Madura menghubungkan Pulau Jawa (Surabaya) dan Pulau Madura (Bangkalan) Dengan panjang 5.438 m, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini bahkan kabarnya terpanjang di Asia Tenggara. Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu Jalan Layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge).

Sayangnya saya baru menginjakkan kaki di jembatan suramadu di tahun 2010 tepatnya di moment idul fitri setelah hampir setahun jembatan Suramadu diresmikan di tanggal 10 juni 2009.
Setelah bermukim di kota Bandung selama tiga tahun akhirnya saya dapat kembali menginjakkan kaki di pulau Madura.
Saya adalah orang keturunan Madura namun tidak pernah besar dan bermukim di pulau Madura. Bahkan almarhum ayah sayapun dimakamkan di Pamekasan Madura karena beliau memang asli 100% Madura . rupanya inilah hikmahnya beliau dimakamkan di kota Pamekasan Madura sehingga kami putra-putrinya dan cucunya masih memiliki keterikatan dan tak terputus hubungan sebagai ‘reng medhureh’. Alhasil sayapun akhirnya dapat menikmati Jembatan Suramadu setiap kali mudik ke Jawa Timur.
Sebelumnya di tahun 2007 hingga akhirnya pindah dan bermukim di Bandung, Jembatan suramadu masih dalam tahap pengerjaan sehingga saat saya berkunjung ke rumah sanak saudara di Madura, saya bersama suami menggunakan moda transportasi kapal ferry untuk mencapai Pulau Madura. Antri, menyeberang dengan ditemani oleh ombak laut yang relatif bersahabat, dan tentunya membutuhkan waktu kurang lebih minimal satu jam untuk menyeberang dari surabaya ke Kamal Madura. Namun semenjak Jembatan suramadu beroperasi, hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit untuk mencapai Pulau Madura.
                Perjalanan Mudik dari Bandung- Malang-Madura di tahun 2010 yang melelahkan ternyata harus dibarengi dengan acara nyasar karena minimnya petunjuk yang mengarahkan ke Suramadu semenjak kendaraan kami keluar dari tol Malang-Surabaya. Galau tingkat tinggi saat petunjuk GPS dan petunjuk di jalan tidak sama..ooohhh buat kami yang telah lama tak bermukim di Jawa Timur tentunya menyulitkan. Rasanya ingin melanjutkan perjalanan dengan kapal Ferry saja bila kami tak kunjung menemukan dimana Jembatan Suramadu.
benar kan...begitu riangnya anakku saat menara kembar terlihat di kejauhan
Namun akhirnya karena bujuk rayu si kecil yang ingin menikmati perdana jembatan kebanggaan Warga Jawa Timur maka  kami rela tanya sana sini, naik turun kendaraan untuk bertanya.
Yuhuuu ….akhirnya perjuangan kami berhasil. Kelelahan dan kesasar akhirnya terbayar dengan terlihatnya dari kejauhan menara kembar di Jembatan Utama Suramadu.
Meski demikian kami berharap agar instansi yang memiliki otorisasi pembuatan petunjuk jalan ke arah Suramadu perlu memperbanyak dan memperjelas petunjuk arah sehingga "turis" seperti kami tidak akan nyasar.

berfoto sejenak sepulang dari Pamekasan


“Bunda, itu Suramadu? Kereeeeen” ungkap putra kami setelah melihat dari kejauhan, Jembatan yang membuat kami penasaran. Eksotiknya pemandangan di sekitar jembatan suramadu makin terasa ketika kami melihat di kejauhan banyak  Kapal yang berlalu lalang, pemandangan pelabuhan kamal dan makin membuat kami terpesona dan nekat untuk berhenti. Ups, berhenti? Boleh? Tentu tidak, ada patroli Jalan Raya yang siap memperingatkan para pengemudi kendaraan yang berhenti di badan jalan.meski di Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter namun untuk keselamatan pengguna jembatan maka terdapat rambu larangan berhenti. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan. Tapi nekat ya tetap nekat, hitung-hitung oleh-oleh dan kenangan bila kami kembali ke kota Bandung.


Ssttt…Pengelola Suramadu, please sediakan tempat bagi kami anak negeri yang amat bangga dengan karya spektakuler ini untuk selfi ya..atau bahkan tentunya turis manca/domestik tak berkeberatan apabila pengelola jembatan Suramadu menyediakan juru foto di tempat yang relatif aman di area Suramadu untuk berfoto dengan biaya yang rasional. bukankah dengan memberdayakan warga setempat sebagai juru foto akan membuka lapangan kerja baru? Kami tunggu , sehingga tak ada lagi pengguna jalan yang berhenti di sembarang tempat untuk berfoto seperti kami....


sumber :hitzithariqi.wordpress.com
sebelum Suramadu beroperasi, warga Madura siap dengan antrian panjang;                                       sumber : Kabarbisnis.com
Memasuki area Jembatan Suramadu maka cukup dengan 30 ribu rupiah untuk tiket kendaraan roda 4 , yang pasti lebih murah kalau kita menumpang kapal ferry. 30 ribu dengan waktu tempuh kurang lebih 20 menit atau 44 ribu bagi kendaraan roda 4 plus 5 ribu untuk per penumpang dengan waktu tempuh satu jam bila lancar dan dua jam atau bahkan lebih bila antrian cukup panjang dan ombak laut sedang tak bersahabat , hayoo pilih mana? Tentunya pilih yang pertama kan? Namun sayangnya saat ini Suramadu masih minim fasilitas meski nantinya terdapat rencana pembangunan Masjid yang berada di kawasan Rest Area Jembatan Suramadu, sekitar 300 meter dari ujung Jembatan Suramadu di sisi Madura yang hingga kini belum terealisir. Rest Area yang hingga kini belum terealisir membuat pengguna Suramadu harus menahan buang air kecil karena tak ada toilet higienis yang tersedia dan harus mengisi BBM kendaraan Full sebelum masuk area jembatan Suramadu mengingat belum tersedianya SPBU di sekitar suramadu. Jadi apakah pengguna Suramadu harus menunggu selesainya pembangunan rest Area hanya untuk buang air kecil? Atau apakah kami harus terpaksa buang air kecil di antara bilik-bilik pedagang kaki lima yang berjajar semrawut di kawasan Kaki Jembatan Suramadu?


pedagang kaki lima yang menjamur semrawut di sepanjang KKJS ; sumber : antarafoto.com
apakah toilet menunggu terealisirnya pembangunan rest area Suramadu? tentu tidak bukan.  kebutuhan akan toilet ini bisa diakomodir dengan pengadaaan toilet portable yang mau tidak mau harus disediakan oleh penyedia jasa tol Suramadu. Kami Bayar, anda servis, kami senang, kami ikut jaga. Mungkin demikian yang bisa saya gambarkan sedikit mengenai ketidaktersediaan toilet di sepanjang tol Suramadu.

Syukurlah hasrat saya untuk buang air kecil saat itu tiba-tiba lenyap gegara masuk ke dalam salah satu kios pedagang kaki lima yang katanya menyediakan kamar kecil yang ternyata hanyalah bilik kecil yang tertutup terpal beralas lantai semen yang sudah mengelupas dan sebuah ember yang hanya terisi air sepertiganya..uppss hhhh bau pesing menyeruak saat terpal disibakkan. Ah sayangnya saya tak sempat mendokumentasikan hanya karena tiba-tiba hilang hasrat buang air kecil dan mata tiba-tiba melihat benda mungil nan lucu, beberapa lembar batik yang cocok untuk oleh-oleh. yah, belanja di kios kios yang berada di area KKJS (kawasan Kaki Jembatan Suramadu) ini, jauh dari nyaman, karena kami harus dihadapkan pada minimnya kebersihan, kerapian  kios dan sekitarnya, para pedagang yang setengah memaksa, menyerbu dan sedikit bermain tipu-tipu soal harga. inilah yang mungkin tak tersentuh oleh instansi terkait perihal etika penjual kepada pembeli yang cenderung membuat kurang nyaman dan ragu untuk kembali membeli souvenir dari kios kios tersebut. mudah-mudahan  kedepannya instansi terkait lebih memperhatikan hal hal di atas sehingga pembeli merasa nyaman. bukankah Suramadu menjadi pintu gerbang Madura? jika pintu gerbangnya saja sudah tidak nyaman , patutlah diragukan bila masuk lebih dalam akan jauh lebih tidak nyaman.

souvenir khas madura
ini sebagian batik buruan saya di Madura yang masih tersisa

Ngomong-ngomong batik, saya tak hanya mendapatkan batik dari kios kaki lima di sepanjang KKJS (kawasan Kaki Jembatan Suramadu ) ini loh, karena saya sebenarnya sudah sempat mendatangi beberapa kampung batik dan sentra penjualan batik di bangkalan yang memiliki warna cantik. Wisata batik yang menjadi salah satu  tujuan saya bila berkunjunn ke madura ini tak jauh dari jembatan suramadu. 30 menit dari gerbang suramadu kita akan menemui banyak kampung batik yang tentunya masih perlu mendapatkan pendampingan dari kementrian perindustrian agar dapat memperbaiki kualitas, cara display, promosi dan pengemasan sehingga daya jual semakin tinggi.


sumber : Travelbatik.com

 
Yah, dibalik hilangnya mata pencaharian banyak orang di area penyeberangan Ujung-Kamal, ternyata ada rezeki yang tersedia bagi orang lain di sisi lain kamal untuk memproduksi pernak pernik madura dan batik madura. Namun, lagi-lagi perlu ada bimbingan dari instansi terkait agar produksi pernak-pernik khas madura bisa memiliki daya jual yang lebih tinggi dan pedagang kaki lima dapat memberikan servis yang lebih baik kepada konsumen.

Membuat sebuah kawasan industri dagang terpadu lengkap dengan atraksi wisata yang dijadwalkan secara bergilir, rasanya akan jauh lebih mempermudah proses pemantauan dan pendampingan dari BPWS dan instansi terkait lainnya. Saya bermimpi bila rest area yang akan dibangun nantinya, kita akan dapat menemui sentra batik dan pelatihan membatiknya, makanan khas madura , sentra produksi olahan laut dan sentra atraksi wisata. Loh, nantinya wisatawan tidak akan datang ke wilayah madura lainnya dong? perlu trik agar wisatawan ketagihan terhadap apa yang disajikan di kawasan industri dagang dan wisata terpadu tersebut. anggaplah di kawasan tersebut kita memberi testernya, dan untuk lebih lengkapnya menggali sentra industri dagang dan wisata tersebut maka wisatawan dipersilahkan datang ke sumber-sumber tester tersebut.

Perlukah guide ? tentu saja. sebuah kantor yang menyediakan tour guide sebagaimana bila kita masuk ke Pulau Bali rasanya perlu dicontoh. Di sini wisatawan bisa mendapatkan informasi obyek dan jadwal wisata tersedia, pramuwisata, kendaraan pendukung wisata bahkan call center gratis bagi wisatawan. bukankah lebih baik kita menyediakan di pintu gerbang daripada nantinya kita harus mengurusi wisatawan yang tersesat dalam melakukan perjalanan wisatanya.

Yah, mudah-mudahan BPWS selaku pendamping pembangunan, pengelolaan, dan pembangunan di kawasan madura dan Jembatan Suramadu lebih respek dengan kebutuhan wisatawan, pengguna jalan, pedagang kaki lima dan masyarakat sekitar jembatan Suramadu, bukankah pembangunan Jembatan Suramadu untuk percepatan taraf ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pariwisata, informasi, layanan jasa, dll. Karya anak bangsa ini tak akan sia-sia apabila pengelolaannya menyesuaikan dengan kultur setempat. Mudah-mudahan. Bila dimenej dengan baik dan memiliki SOP yang jelas saya yakin karya spektakuler  anak bangsa ini tentunya akan mendongkrak perekonomian pulau nan eksotis lengkap dengan keunikan kultur dan budaya yang harus kita pertahankan. Semoga!!


Rabu, 26 November 2014

keberkahan akan kita raih dengan keikhlasan

di tahun 97 saya memulai bekerja sebagai guru SD meski dengan upah 50 ribu/bulan Dan itu saya jalani hingga tahun 2004 dengan upah meningkat hingga 100 ribu/bulan. rugikah saya? TIDAK
bila mengingat  pada masa itu rasanya tidak percaya bila saya bila melakoninya.
kecintaan saya pada anak-anak dan dunia pendidikan mengalahkan keinginan memiliki gaji, upah atau honor seperti rekan kerja yang lain. bahkan seringkali bila saya mendapati murid bimbingan mendapatkan nilai rendah, saya menawarkan diri untuk memberikan beberapa saat waktu luang untuk les bagi mereka tanpa biaya apapun.alias gratis.

memang...ada beberapa teman yang mengatakan "rugi mbak...ngelesi anak orang nggak mbayar"
di benak saya saat itu hanyalah ingin memberikan kebahagiaan bagi anak didik saya saat ia berhasil mendapatkan nilai baik dengan jerih payahnya sendiri. saat itu saya bepikir tak ada ruginya saya memberikan jam tambahan di luar jam sekolah bagi anak-anak yang nilainya kurang, yah anggap saja saya sedang membangun rumah di surga, menata batanya satu persatu dengan merangkai kata dan angka agar anak didik tak lagi kesulitan menghadapi pelajaran.




lagipula saat saya kuliah, biaya pendidikan sudah tercukupi dari beasiswa dan pemasukan dari jasa terjemahan bahasa yang saya terima. jadi saya sudah mendapatkan rezekinya dari celah yang lain.

ya semua akan terasa ringan bila menikmatinya apalagi profesi guru SD saya saat itu yang membukakan jalan sehingga saya akhirnya menekuni profesi dosen hampir 13 tahun lamanya. perlahan namun pasti sedikit demi sedikit rezki yang saya terima jauh lebih dari cukup semenjak saya menekuni profesi dosen. mengajar di SD adalah bonus dari Allah agar saya mengelola waktu belajar, kuliah, bekerja, beribadah, bersantai dan bersabar. mengapa? bukankah profesi dosen jauh lebih mudah? siapa bilang? bila mengajar SD saya hanya dihadapkan pada anak-anak yang menangis putus asa tak bisa membaca, atau berhitung, mengajar tanpa sela bantahan, namun dengan menjadi dosen maka saya harus siap dimusuhi mahasiswa karena memang salah satu mata kuliah yang saya ampu menekankan disiplin. dosen killer? iya kali ya. menjadi dosen juga harus siap dibantah oleh mahasiswa, mahasiswa kritis akan selalu ada disetiap kelas yang siap menghadang proses belajar mengajar . OMG ...

but...semua akan terasa ringan bila kita mencintai profesi tersebut, sedikit banyaknya penghasilan yang kita terima akan berkah bila kita ikhlas melakukannya daannnnn  tentunya bila kita mencintai profesi tersebut.


Rabu, 29 Oktober 2014

belajar dari masa lalu (Bullying @ school)

tiga puluh tahun yang lalu.......
saya hanyalah anak yang pendiam, pemalu dan parahnya karena pendiam dan pemalu, saya cenderung dianggap bodoh  bahkan hingga kelas 6 SD saya seringkali dijadikan sasaran bullying beberapa teman SD...(hmmm...ingatkah mereka?)

jujur, bahkan hingga hari ini saya merasa sangat sedih bila mengingat kejadian tersebut.
mulai dari kehilangan alat tulis satu set atau barang-barang yang lain, sepatu yang disembunyikan, kedua ban sepeda angin saya yang dikempeskan, ditendang, diludahi, dikunci di kamar mandi bahkan dimusuhi oleh beberapa teman.

kedudukan dan posisi almarhum bapak saya saat itu memang cukup baik sehingga otomatis kehidupan kami sehari-hari dapat dibilang sangat baik. saya mendapatkan fasilitas, barang dan perlakuan yang sangat baik dari sekolah. namun, itulah  yang mungkin menjadi satu sumber masalah sehingga saya menjadi sasaran bullying teman-teman.rasanya ada beberapa teman yang sengaja memusuhi karena saya memiliki barang-barang yang cukup baik kualitasnya, dipercaya guru untuk mengikuti beberapa kompetisi seni dan menulis sebagai wakil dari sekolah.

tak pernah sedikitpun saya menceritakan kejadian kejadian tersebut karena ibu dan bapak saat itu sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya.
hanya dengan menangis, membaca dan menerima hadiah dari beberapa kompetisilah saya dapat menghibur diri.
dari kejadian tersebut, saat ini saya belajar banyak ketika Fadhiil juga seringkali mendapat bullying dari teman-temannya.

mungkin saya terlalu lebay bila mengganggap intimidasi sekelompok teman-teman fadhiil berupa merampas bekal sekolah, merampas buku dan menyobeknya, mengambil paksa beberapa alat tulisnya dan menyakiti fisik fadhiil masuk dalam bullying

Masa sih? apa bisa bocah kelas 1 SD bisa melakukan hal tersebut?
namun pengalaman saya di masa lalu ikut memperkuat alasan saya untuk sengaja mengikuti aktivitas fadhiil meski dari kejauhan.
perkembangan teknologilah yang turut berkontribusi terhadap tindak tanduk anak di masa kini.
komunikasi dan kerjasama yang baik antara guru, murid dan orang tualah yang akan meminimalisir kejadian serupa pada anak kita di waktu yang lain.

dukungan dari guru dan orangtualah yang akan membentuk anak dengan cap pendiam, pemalu dan bodoh menjadi seseorang yang terampil berkomunikasi, memiliki empati dan berprestasi.

belajar dari masa lalulah yang membentuk saya untuk merubah anggapan tersebut
apakah saya masih dianggap pendiam dan pemalu ketika profesi dosen saya pilih? OMG berbicara di depan mahasiswa bukanlah hal yang mudah perlu ketrampilan public speaking dan keterampilan berbagi ilmu.
atau ...masihkah saya dianggap si klemar klemer ketika saya bisa menembus perguruan tinggi negeri melalui jalur PMDK + beasiswa dan studi lanjut dengan besiswa penuh?

so Dont Judge a book By a cover

itulah yang saya tanamkan pada Fadhiil putera semata wayang saya. percaya diri. percaya diri dan berusaha selalu berbuat baik meski mendapat bullying dari beberapa temannya. tetap belajar membela diri namun dengan elegan. tunjukkan dengan prestasi dan sikap yang baik....yang kuat ya Cong...

pola asuh anak vs kemarahan anak


pernahkah anda melihat seseorang marah dan mengungkapkannya dengan melempar atau meletakkan barang dengan tekanan?
apa yg terjadi di masa kecil?
pernahkah anda menjanjikan hadiah agar si kecil tak menangis atau marah lagi?
"yuk beli permen tapi janji dede ga marah/nangis lagi" atau
masa kecilnya diwarnai dengan peristiwa serupa? piring sepatu panci bahkan buku melayang sangat cukup mengisi memorinya tentang bagaimana mengolah emosi nya.
jadi maukah anda mencetak si kecil pemarah yg mengungkapkan amarahnya dengan melempar barang di saat usia dewasa?

Minggu, 12 Oktober 2014

renungan 12 oktober 2014

kita selalu percaya dan bahkan keblinger percaya saat ahli keuangan membeberkan manajemen keuangan pribadi
kita selalu bertanya tanya mengapa penghasilan kita selalu kurang
atau
justru kadang kita merasa heran mengapa penghasilan kita yang'pas pasan' dapat membuat anggota keluarga bahagia
kuncinya bukan pada sistem keuangan yang canggih atau kita memiliki banyak materi atau kita memiliki penasehat keuangan yang cerdas namun ternyata hanya pada :
sudah tidaknya kita menggunakan kalkulator Allah?

renungan 11 oktober 2014

mengandalkan manusia memang harus siap kecewa.
saat orang lain ingkar terhadap janjinya
saat orang lain hanya memberikan mimpi
saat orang lain pamrih akan pemberiannya
namun hanya Allah yang tetap menepati janjinya
hanya pada Allah kita menggantungkan harapan

Kamis, 09 Oktober 2014

catatan kecil buah hati

tiba-tiba malam ini, ingatan kembali pada hampir lima tahun yang lalu saat pertama kali saya merasakan begitu sulitnya saya memiliki waktu yang cukup nyaman untuk diri sendiri.

kehadiran si kecil fadhiil yang rewel di jam-jam tertentu membuat saya mau tidak mau harus meluangkan waktu ektra dan akhirnya perlahan melepaskan kecintaan saya pada dunia kerja. akhirnya melepasnya dengan ikhlas

kini lima tahun berlalu tapi ternyata kami masih dibayangbayangi kelebihan yang dimiliki oleh fadhiil putra semata wayang. jika awalnya saya sangat excited fadhiil masuk sekolah dasar namun rasanya hari demi hari ingin kami lalui dengan cepat dan tentunya dihiasi senyumannya






senyuman inilah yang selalu kami rindukan.....perlahan tapi pasti Allah akan menjawab misteri dibalik ini semua.meski demikian Bunda tetap menyayangimu Nak. siapapun yang melihat senyummu seperti itu sudah pasti akan 'meleleh' sebagaimana bunda setiap kali melihat senyummu...love u Fadhiil

Minggu, 28 September 2014

akhirnya momen itu datang juga...


"Bunda, aku sudah berani, ngga usah ditungguin lagi di depan kelas. Bunda tunggu aja di depan sekolah. nanti kalau ada patung* lagi, fadhiil mau lawan pake doa dan jurus bima X"



alhamdulillah. terharu Bunda mendengarnya. momen ini akhirnya datang setelah hampir 2 bulan memulai sekolah di tingkat sekolah dasar. kemampuan indera keenam yang dimiliki Fadhiil selama ini ternyata baru dapat sangat dirasakan dampaknya saat masuk sekolah baru.
hampir dua bulan, setiap hari, saya dan suami harus berbagi perhatian dengan apa yang dialami fadhiil
menangis sepanjang perjalanan belajarnya di kelas, mematung bahkan ditambah pula pandangan ketakutan pada satu titik.
saat itu, saya merasa ada di titik terendah dengan apa yang fadhiil alami dan ceritakan.

"Bunda, itu patungnya ada lagi"
"Bunda, patungnya pakai kursi fadhiil. mau duduk dimana fadhiil?"

patung adalah sebutan fadhiil kepada makhluk lain dunia yang ia lihat. bunda tak bisa apa-apa Nak saat itu. Bunda hanya bisa mendoakannmu semoga fadhiil segera memiliki keberanian untuk menghadapi 'patung' yang ia lihat.

menggelar pengajian, ruqyah, sedekah sudah kami lewati, namun ternyata kemampuannya makin tajam. Bunda dan ayah semakin kebingungan menghadapimu saat itu. dititik kepasrahan itulah, tiba tiba fadhiil mengungkapkan bahwa ia lebih berani.

semoga apa yang telah terjadi di masa kecilmu kini membuatmu semakin kuat dan teguh menghadapi pasang surutnya kehidupan nantinya. Bunda hanya memiliki sejumput doa agar fadhiil bisa menjadi anak shaleh, menjadi pemimpin teladan di masa depan, sehat dan kuat lahir batin. aamiin.....

Jumat, 19 September 2014

“mon etobi’ sake’ ajje’ nobi’ oreng laen”




                Sebuah adagium yang membuat saya selalu belajar, introspeksi diri dan menahan diri. Adagium yang selalu orangtua saya tanamkan semenjak saya masih kecil. Saya terlahir dari kedua orangtua yang berdarah Madura asli  namun semenjak kecil saya harus dan mau tidak mau belajar tentang Budaya Jawa. Tempat dimana kedua orangtua saya merantau semenjak saya masih sangat kecil.
            Merantau, jauh dari kampung halaman namun disinilah di pulau Jawa, saya menuntut ilmu, menghirup nafas, bersosialisasi bahkan Ayah sayapun menuntut saya dapat berbahasa Jawa Halus (kromo Inggil) dalam percakapan sehari-hari. Lucu?pasti! saya  berdarah madura Asli tapi bila nilai bahasa daerah saya di sekolah hanya bisa mencapai nilai 6, maka terbayang murka ayah semenjak saya mendapatkan hasil ulangan tersebut. Tak sedikitpun percakapan bahasa Madura diterapkan dalam keluarga saya saat itu.  Semua anggota keluarga bahkan hingga asisten rumah tangga menggunakan bahasa Jawa yang begitu kental dalam bahasa sehari-hari. Begitu tersiksanya saya saat itu. Dipaksa menggunakan bahasa daerah yang bukan bahasa saya. Namun pembiasaan orangtua dan kondisi lingkungan yang mempu membentuk saya untuk perlahan mencintai Budaya Jawa meski tetap tak terpisahkan dengan adat istiadat Madura. 


                Mengikuti kursus menari dan menabuh gamelan merupakan salah satu cara bapak menanamkan rasa cinta budaya rantau. Pelan tapi pasti, saya memang sangat mencintai budaya Jawa. Bahkan rasanya saya bukan terlahir dari keluarga yang bersuku Madura. Hingga akhir hayat bapak di tahun 1994 pun beliau berpesan agar tetap tinggal di tanah jawa agar memperoleh kemudahan fasilitas pendidikan yang memang banyak tersedia di kota Malang tempat saya bermukim sampai tahun 2007 hingga akhirnya di tahun tersebut saya memulai hidup baru bersama keluarga kecil saya di kota Bandung. 

                 Di tahun 2007 Inilah awalnya saya mengingat-ingat kembali pesan yang sering almarhum bapak sampaikan ketika saya masih duduk di bangku sekolah. Salah satu adagium orang Madura yang patut untuk didengarkan dan juga dipahami serta dipraktekkan oleh masyarakat adalah “mon etobi’ sake’ ajje’ nobi’ oreng laen” artinya kalau anda disakiti oleh orang merasa sakit, jadi janganlah menyakiti orang lain. Ini merupakan sebuah nasehat, bahwa kita sebenarnya ditentukan oleh diri kita sendiri. Kita ditentukan oleh sikap, tindakan serta ucapan kita sendiri. Ketidakmampuan kita menjaga semua ucapan serta tindakan yang ada pada diri kita, akan menyebabkan diri kita selalu penuh dengan masalah yang akan selalu mengejar-ngejar kita. 

Selalu berhati –hati. Hingga akhirnya sayapun tak bisa menghindar tersandung masalah dengan seseorang yang nyata-nyata menyimpan rasa ketidaksukaan pada keluarga kami yang notabene berdarah madura. Banyak hal yang selalu menjadi bahan sindiran, ejekan bahkan makian  yang mengarah pada membully karakter kita sebagai orang bersuku madura. Yang dikata kasar, penipu,bahkan disebutkan bila kami tak pantas tinggal di area mereka. Kondisi ekonomi keluarga kami yang saat itu terlihat jauh lebih baik daripada penghuni beberapa petak kontrakan yang lainpun menjadi bahan iri hati  hingga akhirnya fitnah tentang keberadaan saya sebagai salah seorang yang bersuku Madura. Teriris rasanya hati ini saat itu namun saya hanya bisa diam dan diam. Untuk apa saya membalas jika akhirnya sayapun akan kembali sakit. Sakit yang tak berujung. 

Kini 7 tahun setelah kejadian tersebut, banyak hikmah yang saya petik, bahwa perlunya kita menanam kebaikan meski dengan hanya menyingkirkan sebuah paku di tengah jalan ,  menjadi pendengar yang baik bahkan seperti yang saya alami yaitu membiarkan saja orang yang menyakiti saya. Tak ada yang sia-sia dengan menanam kebaikan karena kita akan memanen hasil yang berlimpah. Berusaha untuk tidak mencubit (baca : menyakiti) orang lain karena bila itu yang kita lakukan maka kelak mungkin kita akan memanen hasilnya. Kepada siapakah kita menanam kebaikan? kepada siapapun! karena tak ada yang sia-sia bila kita menanam kebaikan dan yang pasti  Jangan menyakiti bila anda tak mau disakiti.







Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati-Bahasa Daerah harus diminati
banner

Kamis, 11 September 2014

Jamu. Kembali ke alam, kembali ke ramuan tradisional Meraih derajat kesehatan yang lebih baik



Dibesarkan di keluarga yang berdarah madura yang dahulu memiliki usaha ramuan jamu madura tentunya saya tidak asing dengan aroma jamu, berbelanja bahan jamu  mulai dari secang, delima putih, kayu angin, cabe puyang dll, bahkan berinteraksi dengan pelanggan jamu yang rata-rata adalah perempuan. Menurut eyang putri keinginan cantik dan sehat itu adalah dorongan alami sebagai perempuan, namun bila wajah tak cantik maka berusaha menjadi perempuan yang enak dipandang mata dengan kebersihannya, harum tubuhnya dan tentunya sehat luar dalam. kebersihan dan kesehatan itulah yang harus ditunjang dengan meminum jamu tradisional yang merawat tubuh dari dalam dan ramuan lulur untuk menjaga kebersihan tubuh bagian luar. 

 Sekarang, tiga belas tahun setelah eyang putri berpulang, saya sangat merindukan bagaimana minum jamu ramuan tangan eyang putri plus wejangan dan banyak cerita tentang kesehatan wanita, tapi itu semua rasa mustahil. Saya hanya bisa menikmati jamu gendong atau jamu tradisional di toko jamu meski masih harus berjuang menangkal rasa pahit jamu.  

saya berharap satu saat bisa menikmati jamu tanpa harus merasakan rasa pahit dan tentunya AMAN. Inilah perlunya sebuah lembaga riset yang tanaman yang membuat sebuah produk pengembangan hasil riset.  Tak hanya membuat produk pengembangan riset berupa jamu yang berasal dari tanaman yang memiliki khasiat penyembuhan terhadap suatu penyakit, namun mudah-mudahan suatu saat nanti mengampu peracik jamu di seluruh Indonesia sehingga memiliki standar keamanan yang pasti untuk kesehatan. Kepercayaan masyarakat tak hanya pada sebuah Brand yang menaungi suatu produk, namun juga sugesti masyarakat terhadap produk jamu yang beredar di masyarakat. Siapa yang tidak kenal dengan idiom “ramuan madura”? atau “ramuan sumbawa”?.

Percaya bahwa dengan merangkul sugesti masyarakat terhadap jamu di suatu daerah, maka penikmat jamu  yang mengutamakan kesehatan akan jauh lebih memilih meminum jamu daripada selalu mengandalkan obat yang mengandung bahan kimia untuk membantu penyembuhan suatu penyakit. Inilah yang sedang dikembangkan oleh Pusat Studi Biofarmaka IPB telah menghasilkan produk yang siap dikonsumsi di antaranya adalah :

  • BIOLANGSING , PELANGSING INSTANT.  Yang bermanfaat : Meluruhkan lemak tubuh.
  • BIOURIC. Yang bermanfaat : Menurunkan Asam Urat & Anti Inflamasi
  • PHALERIA KAPSUL. Yang bermanfaat sebagai Antioksidan, dan  Menurunkan gula darah
  • GYNURA KAPSUL. Yang bermanfaat : Melancarkan Sirkulasi Darah
  • ANDROGRAPHIS KAPSUL. Yang bermanfaat : Menurunkan Kolesterol & Gula Darah
  • MORINDA KAPSUL. Yang bermanfaat: Menurunkan Tekanan Darah, Anti Kanker

serta produk-produk lain: yaitu Minuman Instant: Gano Instant rasa jahe & jeruk,Permen: Permen Kayu Putih, Permen Temulawak, Kapsul Ekstrak Campuran: BioDiabet, BioHepa, Gano Tea, Kapsul Ekstrak Tunggal yang berisi Ganoderma, Pegagan, Meniran, Daun Sendok, Daun Dewa, Sambiloto, Brotowali, Simplisia tanaman obat berkhasiat dan Ekstrak tanaman yang berkhasiat fitoestrogen


lagi-lagi dengan adanya produk di atas, kita harus memikirkan agar masyarakat kembali lagi ke alam dengan mengkonsumsi jamu. Perlahan, masyarakat mulai tidak percaya dengan produk jamu sehingga mungkin saja satu saat nanti jamu yang seharusnya menjadi brand Indonesia justru diakui milik negara lain (relakah anda?tentu tidak!). dalam hal ini pemerintah hendaknya :

1.      membantu, mengarahkan, memberikan penyuluhan dan mengawasi pengusaha jamu tradisional untuk mengikuti standar kesehatan dalam pemrosesan jamu sehingga benar-benar menggunakan produk alam tanpa bahan kimiawi apapun seperti banyak terjadi pada produk jamu saat ini sehingga masyarakat luas memiliki anggapan bahwa mengkonsumsi jamu tidak aman karena banyak produk jamu aspal.


2.      Menjadi jembatan antara pengusaha jamu skala kecil dengan pengusaha jamu berskala besar sehingga dapat bekerja sama untuk memproduksi jamu dengan standar kesehatan, kemasan yang menarik dan rasa yang nikmat. Dengan meningkatnya produksi dan penjualan ini, tak hanya menguntungkan bagi pengusaha besar namun juga diharapkan meningkatkan perekonomian pengusaha jamu skala kecil.


3.      Meningkatkan edukasi kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan
mengkonsumsi produk-produk jamu atau menanam tanaman obat keluarga (TOGA) di rumah sehingga tak selalu mengandalkan produk obat yang mengandung kimiawi. Selain mudah, murah tentunya aman.
4.      Memberikan sanksi yang sepadan bagi pelaku usaha bidang jamu curang yang memproduksi jamu aspal, asli tapi palsu. 




ya, mudah-mudahan satu saat nanti saya bisa menikmati jamu tradisional lainnya (tentunya jamu ramuan madura pula ya..masa kita kalah dengan sapi,kambing bahkan ayam madura yang selalu teratur minum jamu) tanpa harus ketakutan mengkonsumsi jamu aspal yang saat ini banyak beredar. Alam begitu baiknya menyediakan bahan-bahan sebagai bahan pendukung kesehatan kita. Kembali ke alam, kembali ke ramuan tradisional untuk mendapatkan derajat kesehatan yang jauh lebih baik.



Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...