Jumat, 09 Juni 2017

Aku ingin (anakku) sukses



1 bulan  ini mungkin ada di antara kita sebagai orang tua sempat disibukkan dengan ulangan, ujian, atau penilaian akhir semester/sekolah dari anak-anak kita
Mungkin ada diantara anda menaruh harapan agar anak mendapatkan nilai terbaik di antara teman-temannya (sehingga) ada dapat menjadikan anak anda sendiri sebagai komoditi kebanggaan diri
Wajar, bila sebagai orangtua berharap agar anak-anak kita memiliki prestasi yang sangat baik dibandingkan lainnya dengan persepsi bahwa nilai akademik saat ini akan berpengaruh dan menentukan kesuksesan  anak melanjutkan jenjang yang lebih tinggi
Namun apa jadinya bila hanya karena harapan anda, anak menjadi hilang kepercayaan diri karena akhirnya nilai yang didapat tidak sesuai harapan anda
Sayapun tidak memungkiri memiliki harapan yang sama terhadap anak
Saya ingin memiliki anak yang berprestasi
Tapi apa jadinya bila kepercayaan dirinya hilang
Ada satu kalimat yang seringkali saya singgung saat anak menghadapi ujian atau kesulitan lainnya
“Bunda berharap agar kakak memiliki keinginan untuk tetap berusaha, tekun, jujur dan percaya bahwa Allah selalu mendampingi”
Apa yang terjadi ketika beberapa waktu lalu , kakak mendapatkan nilai 60 untuk satu mata pelajarannya?
Jelas dalam hati saya kecewa. Namun semua saya tepis. Ia sudah berusaha. Ia sudah mau belajar. Dan ia sudah mau jujur. Saya hanya mampu berkata, “ asal kakak mau memperbaiki, mau tetap berusaha dan jujur”
“ iya Bun. Aku sudah usaha tapi aku  paling nggak suka kalau saat ulangan ada yang saling Tanya jawaban soal , contek-contekan gitu, Bun”
Weeewww…..kalau seusia anak kelas 3 SD saja doyan nyontek, bagaimana nanti bila menjadi abdi Negara? Orangtua mana sih yang tidak ingin memiliki anak yang pintar hingga bisa menraih peringkat satu atau minimal 5 besar ? kalaupun anak kita belum mampu mencapainya mengapa harus menekan dan memaksakan anak untuk mewujudkan impian kita? Saya hanya beranggapan bahwa kelak orang-orang yang mau berusaha, tekun dan jujur bisa survive menjadi seseorang yang layak menjadi panutan sehingga mampu bertanggung jawab atas perilakunya di tengah-tengah masyarakat. Kejujuran yang ditanamkan dengan pondasi yang kuat akan membangun tanggung jawab bahwa apa yang ia lakukan tak hanya untuk dirinya, namun juga orangtua, keluarga besar, masyarakat dan tentunya Allah . perlahan namun pasti kepercayaan dirinya akan tumbuh sehingga keinginan berprestasi itu tumbuh dari dirinya sendiri, dengan demikian anak tentunya mau berpikir atas apa yang dilakukannya, mengasah kesadaran atas konsekuensi yang dilakukannya sehingga mampu mencari dan memilih dari berbagai solusi-solusi masalah yang dihadapinya. Namun, satu yang penting ya Mom, Pap….tetap dampingi mereka membangun impiannya ya…
Kejujuran dan tanggungjawab layak menjadi satu tolok ukur kesuksesan seorang anak ya mam, Pap..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...