Sabtu, 29 Maret 2014

Keikhlasan Bertukar Peran (Sekar No 101/13)



Pagi itu kami diberikan anugerah berupa tetangga baru, Alhamdulillah setelah sekian lama di blok kami hanya berisi dua keluarga akhirnya hari ini kami memiliki satu lagi tetangga yang pastinya akan membuat ramainya blok ini dengan teriakan dan ocehan kedua anak balitanya. Alhamdulillah.
Keluarga yang lengkap, ibu, ayah dan dua anak, pindah menempati rumah barunya. Sama halnya dengan kami saat pertama kali pindah ke komplek ini. Meski dengan keterbatasan, menempati rumah sendiri adalah hal yang membahagiakan. Hari pertama kehadiran keluarga baru kami memberanikan datang ke rumahnya yang terletak di seberang rumah, dua balita laki laki yang masing masing berusia 4 dan 2 tahun. Anakkupun telah bisa beradaptasi dan bermain dengan Yoga dan Tama.
Keluarga muda yang bahagia. Dua, tiga, empat hingga akhirnya hitungan hari hingga seminggu kami saling bertukar makanan, menyapa, hingga menitipkan anak. Yang menjadi pertanyaan dalam hati hingga sebulan keluarga baru ini menempati komplek ini yang terlihat bekerja ke kantor hanyalah istrinya. Sedang suaminya berada di rumah, mengasuh anak, menjemur pakaian, bahkan berbelanja sayuran dan bahan makanan semuanya dilakukan suami. Hal yang masih dianggap tabu oleh orang timur saat ini. Bukan maksud hati untuk selalu ingin tahu apa yang tengah dilakukan oleh orang lain, namun pertukaran peran antara suami dan istri dari tetangga baru ini  jarang terjadi di masyarakat Indonesia. Bila pada umumnya pria yang mencari nafkah dan wanita mengurus rumah tangga.
Meski ada beberapa orang memandang negatif dengan kondisi keluarga ini namun itu semua tidak mempengaruhi kami sebagai tetangga terdekatnya. Apa yang kami lihat tidak seperti yang orang bicarakan. Ada hal positif yang kami petik dari keluarga baru ini bahwa dalam kehidupan rumah tangga perlu kerja sama, saling menjaga hati dan berkorban satu sama lain. Tidak perlu mendengar apa kata orang ataupun apa yang lazim dalam adat ketimuran karena pada dasarnya ada jiwa lain yang perlu diselamatkan. Tanpa ada pengorbanan, keihlasan, ketulusan dari suami ataupun istri untuk bertukar peran, kamipun tak akan melihat canda tawa anak-anak dan senyum hangat dari tetangga baru kami.(januari 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...