Minggu, 30 Maret 2014

Minggu, 29 Desember 2013 Berani mengungkapkan pendapat.



Budaya ewuh pakewuh yang ada di masyarakat kita cenderung mengebiri kemampuan seseorang untu mengemukakan pendapatnya. Saya sangat bersyukur dilahirkan dalam keluarga yang sangat demokratis. Apa yang saya inginkan, apa yang ada di hati tidak perlu disimpan terlalu lama karena kedua orang tua membuka kesempatan agar ketiga putrinya mau untuk berpendapat.
            Besar di tengah keluarga yang demokratis, mendapat fasilitas pendidikan mulai SD hingga pascasarjana dan bekerja  yang memberikan kesempatan agar setiap individu berani mengemukakan pendapat rupanya baru saya rasakan manfaatnya. Ya, semenjak kurang lebih 7 tahun yang lalu menetap di kota Bandung yang lekat dengan budaya priangan, saya sedikit terkejut.
            Apa pasal? Saat kita punya keinginan, saat ada kemauan namun ternyata ada orang lain yang hendak “pantas” menerimanya maka kita harus diam dan tidak dianjurkan untuk protes. kondisi yang sangat sulit saya hadapi saat saya memiliki pendirian “jika Ya dijawab Ya jika Tidak maka jawab Tidak”.
            Tidak, memegang prinsip dan pendapat yang beralasan perlu dimiliki oleh setiap orang.menanamkan sikap seperti ini juga saya tanamkan pada si kecil.hingga pada saatnya tiba seperti saat ini, maka si kecil berani mengungkapkan apabila ia suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Jadi daripada menyiksa diri memendam uneg-uneg lebih baik ungkapkan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...