Minggu, 30 Maret 2014

desember 2013-KOMUNIKASI HANGAT DAN PENUH CINTA, MENGASAH KETERAMPILAN SOSIAL DAN BERGAUL ANAK




Setahun yang lalu saat si kecil mulai memasuki sekolah taman kanak kanak saya sedikit dihantui rasa khawatir. Reaksi penolakan si kecil yang berlebihan terhadap lingkungan barunya membuat saya berupaya keras agar si kecil lebih bisa memanaj emosinya bila bertemu teman-temannya yang menurutnya jahil serta penolakan terhadap sesi bercerita di depan kelas untuk semua murid.
            Semenjak kecil saya memang mengajarkan kepada si kecil mana yang dimaksud barang pribadi dan mana yang tidak, namun sedikit mengabaikan bagaimana sebenarnya emosi anak usia balita dalam bersosialisasi. Keinginan balita yang seringkali ingin memiliki barang milik orang lain meski dirinya memiliki barang serupa rupanya mengganggu si kecil karena teman-temannya sangat menyukai bekal makanan, tempat minum, tas hingga sepatu yang dimilikinya. Kondisi ini menyebabkan si kecil memilih menjauh daripada harus berbagi makanan atau barang yang dimiliki.
            Cara ini ternyata justru menimbulkan masalah baru karena si kecil merasa tidak memiliki teman.saat waktu berangkat sekolah dan pulang sekolah tiba, seringkali saya mengajaknya berbicara dari hati ke hati tentang apa yang diinginkan dari kegiatan sekolahnya. Tak mudah mengorek cerita dari si kecil, butuh beberapa waktu agar ia bisa mulai membuka cerita.
            Keinginannya agar barang-barangnya tak disentuh atau diminta oleh teman-temannya rupanya yang menjadi masalah saat itu. Tak  hanya sekali setiap kali akan membuka bekal sekolah selalu saja kotak makanan si kecil kosong atau hanya tinggal setengah bagian saja. Keinginan untuk bersekolah dari si kecil makin ciut hingga akhirnya saya sengaja meminta ijin kepada kepala sekolahnya untuk mengambil libur dengan pertimbangan akan percuma saja masuk apabila si kecil masuk sekolah bila harus didahului dengan tangisan, mogok belajar hingga tangisannya mengganggu teman-teman lainnya.
            Bercerita dan berkomunikasi secara hangat, mengorek perasaannya ketika bersekolah tetap saya lakukan karena setiap dua hari sekali selama hampir seminggu saat ijin tak masuk sekolah, sengaja saya mengajak si kecil untuk pergi kepanti asuhan dengan tujuan ia bisa melihat bahwa kondisi kehidupannya bersama saya dan ayahnya sangat baik. Jauh sangat baik dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal di panti. Tak hanya melihat kegiatan sehari hari di panti namun namun juga akhirnya si kecil diijinkan untuk ikut berkegiatan bersama.
            Bersama teman-temannya di panti asuhan, saya memberi pengertian bahwa semua yang berada di panti harus berbagi makan, tempat tidur, tempat bermain, menonton tv bahkan belajar pun harus berbagi tempat tanpa ada ayah atau ibu yang mendampingi. bukan hal yang mudah untuk memberi pengertian demikian , hampir setiap kali berangkat dan pulang dari sekolah saya berusaha memberikan pengertian bahwa ada sebagian milik kita merupakan hak dari orang-orang yang kurang mampu.
            Tak hanya dengan berkegiatan seperti yang telah saya sebutkan di atas, untuk mengasah keterampilan sosial dan bergaul di lingkungan tempat tinggal, kami juga mengajak beberapa teman sebayanya untuk bermain di rumah bersama Fadhiil. Sayapun juga sering mengajaknya untuk bergabung dengan anak-anak dari teman-teman saya dan tentunya tak lupa catatan untuk mudah berbagi dengan orang lain.
            Tak butuh waktu lama untuk mengajak si kecil beradaptasi dengan kegiatan barunya untuk selalu berbagi dan bergaul dengan teman-temannya di sekolah. Komunikasi dan aktivitas positif yang saya dan suami lakukan beberapa waktu tersebut membawa perkembangan cukup baik sehingga tak perlu ada lagi tangisan, penolakan si kecil di sekolah. Memang butuh waktu yang cukup panjang namun karena saya berusaha tak melewatkan sesi bercerita saat perjalanan berangkat ke sekolah dan sepulang sekolah serta satu sesi bercerita lagi di saat makan malam bersama ayah bundanya, tak hanya kepedulian sosial dan cara bergaul yang menunjukkan perkembangan namun juga rasa percaya diri yang bertambah saat harus tampil di depan teman-temannya untuk bercerita di depan kelas juga merupakan bonus dari penciptaan komunikasi yang hangat dan penuh cinta dari kami kedua orang tuanya.
            

1 komentar:

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...