Jumat, 21 Oktober 2016

panas dingin saat akan menunggangi kuda besi


Menyetir Mobil? Aih….sudah biasa lah….jam terbang sudah tinggi, kurang lebih 23 tahun bersahabat dengan roda empat , mulai dari sekolah, kuliah, kerja bahkan sampai saat ini untuk kepentingan antar jemput anak.

Tapi kalau flash back ke 23 tahun yang lalu, panas dingin seakan masih bergelayut di tubuh.


Bagaimana tidak? Seumur umur hingga usiaku waktu itu 16 tahun, pegang stir mobil saja belum pernah. Semua tergantung pada Pak sopir yang selalu stand By di rumah dan siap mengantar kemanapun kami pergi.


Menunggang kuda besi tanpa SIM dan hanya belajar menyetir selama seminggu, kemudian saya nekad melanggar mengendarai mobil melalui jalan tol bukanlah hal yang mudah kalau bukan karena terpaksa. Ya…terpaksa, karena mau tidak mau saya harus menggantikan posisi bapak untuk sementara untuk adik-adik  dan ibu sepeninggal bapak.


Sepeninggal bapak, maka semua fasilitas Negara ditarik, pemasukan keluarga jelas sangat berkurang, hingga akhirnya kami harus berbesar hati untuk berdiri di atas kaki sendiri. tapi apakah kami harus diam di rumah terus menerus, sementara saat itu kami tinggal di daerah yang cukup jauh dari angkutan umum. Kan ada motor? Yah…lalu bagaimana kalau mau bawa ibu, kedua adik dan eyang bepergian? Mau tidak mau harus bisa mengendarai mobil.


Singkat cerita akhirnya Ibu mendaftarkan saya ke sebuah lembaga kursus mobil. Cuma seminggu saya bisa dapat kesempatan kursus stir mobil dan setelahnya mendapatkan SIM. Loh…kan masih usia 16 tahun saat itu…..haiyah, ntar aja saya ceritakan bagaimana prosesnya kok bisa mendapatkan SIM A di usia 16 tahun.


Sesudah punya SIM A lalu sudah bebas dan mahir stir mobil sendiri?


NGGAK !!!! setiap kali ibu meminta antar ke suatu tempat, saat itu pula saya merasakan panas dingin, sesak dan ujung-ujungnya pusing, otomatis nggak jadi pergi lah. Mobil sukses mentertawakan saya. Gimana nggak panas dingin? Mau parkirin mobil aja masih susah, lhah kok harus mengantar ibu naik mobil? Gimana nanti ceritanya di jalanan? Berjalan di dekat mobil saja sudah bikin panas dingin, apalagi mengendarainya.


Seminggu, dua minggu, sebulan, saya Cuma berhasil memanaskan mobil di dalam carport, itupun harus berkali-kali memastikan gigi persneling tidak masuk dan hand rem harus ditarik. Namun itu tak berlangsung lama , karena om, adik kandung ibu memiliki inisiatif untuk mengajak saya melatih ketrampilan dan pembiasaan dengan si kuda besi. Tanpa ba-bi-bu dan tak tanggung-tanggung, Om Mamat, begitu saya memanggilnya mengajak ke luar kota. Apa nggak panas dingin tuh?


 “kalahkan rasa takut demi ibu “ begitu om mamat mengatakan. Trek tol Malang-Surabaya harus saya taklukkan di hari pertama setelah sekian lama saya memperoleh SIM A.  begitu lolos tol Malang-Surabaya yang saat itu bisa ditempuh hampir 2 jam ternyata saya harus melewati tantangan berikutnya. KEMBALI LAGI KE KOTA MALANG DENGAN TREK YANG SAMA. Ya Allah, bukanlah perkara mudah. Panas dingin kembali melanda. Tapi semuanya bisa teratasi dengan cepat karena om memberikan sepotong coklat sebagai booster penenang sebelum menyetir dan …..kembali berhasil. Hari itu saya berhasil menyetir PP Malang- Surabaya. Yeeaaayy….


Sejak hari itu saya wajib melakukan PR menyetir mobil keliling komplek hampir selama 1 tahun lamanya. Panas dingin dan gemetaran hilang sudah. Sedikit demi sedikit mencoba mengantar ibu ke pasar, sambil mengantar adik adik ke sekolah. rupanya mengasah rasa percaya diri, ketrampilan menyetir memang harus dilalui melalui latihan demi latihan

Alhamdulillah hingga saat ini total sudah 23 tahun lamanya saya bersahabat dengan kuda besi pemberian terakhir almarhum bapak jelang 14 hari beliau meninggal.

Ke sekolah, mengantar ibu dan teman-teman pengajiannya, mengantarkan pengantin, mengantar adik-adik kuliah hingga wisuda, bekerja,  mengantar saat prosesi menikah, melintasi malang-bandung PP, mengantar si kecil imunisasi dan control rutin dan hingga kini akhirnya saya memiliki profesi tetap sebagai sopir antar jemput anak. Ada kemudahan di balik kesulitan , ada kebahagiaan di balik kesedihan dan ada hikmah di balik segala peristiwa. Meski awalnya sangat sulit untuk menyetir mobil, bahkan hingga panas dingin, namun saat ini ada banyak hikmah dan kesempatan untuk menjadi bunda yang mandiri dan lebih banyak memiliki waktu bersama anak di atas mobil

 

tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveaway "Momen yang Paling Berkesan & Tak Terlupakan"

 

 

2 komentar:

  1. hanya 1 minggu belajar dan langsung pandai? wow hebat banget Mba Suci!

    terimakasih sudah berpartisipasi di GA saya yah.. :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1 minggu belajar, proses melancarkannya sampai 1 tahun . semua tergantung pada niat mbak, kalau ada niat dan "kepepet" ya pasti bisa kok ..

      Hapus

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...