Sabtu, 01 Oktober 2016

Membaca? Untuk apa?




Tugas membaca?

Membaca saja tanpa mereview?

Wah, semua orang juga bisa lah


Tebaklah, ketika 10 anak diberi tugas membaca , mencatat siapakah penulisnya, siapakah tokohnya, penerbit manakah yang menerbitkan buku, maka tidak akan lebih dari setengahnya yang dapat menceritakan isi cerita buku tersebut. Mereka bisa saja mencatat nama penulis dan penerbit dari halaman sampul depan.  Isinya?  Belum tentu…..tentunya Waste of time dan tidak mendidik anak untuk mencintai bacaan. Tugas tersebut hanya akan menjadi rutinitas belaka. Hanya karena takut akan perintah. Lalu bagaimana menariknya ke dalam dunia literasi?


Berikan contoh!

Bagaimana?

Orang yang jauh lebih dewasa, bisa itu kakak, orangtua , saudara bahkan guru memberikan contoh bahwa mereka mencintai membaca.

Bagaimana anak akan mencintai membaca jika yang menugaskan membaca sibuk dengan jari jemari di handphone sambil tersenyum senyum sendiri atau hanya sibuk mengobrol dengan rekannya ..

Aih….

Gagal sudahlah misi kita membuat anak mencintai ilmu pengetahuan melalui membaca. 



“kenapa aku harus membaca bunda? Pelajaran di sekolah kan sudah banyak. Yang di buku juga nggak berguna?”

Kalimat ini pernah terlontar 3 tahun yang lalu oleh si kecilku… dan pertanyaan itu berkali kali diungkapkan kemudian hingga saat ini ketika ia telah mencintai membaca



“Kak, ilmu yang didapat dari buku itu tidak hanya akan dipakai sekarang. Ibaratnya sekarang kita menabung ilmu di satu bagian otak kita seperti halnya kita memiliki brankas. Satu saat kita akan mengambilnya ketika membutuhkannya, entah esok, lusa, tahun depan atau dua puluh tahun kemudian”

Dan…saya pun memang mencintai membaca sejak kecil karena kedua orang tua juga telah memberikan atmosfir literasi semenjak di dalam rumah dimana sehari-hari kita beraktifitas.


Sekarang, ketika usia si kecil jelang 9 tahun, ia sudah bisa duduk tenang di sudut ruangan, membaca dengan tenang, membaca hingga usai, menceritakan kembali dan bahkan dapat membuat cerita imajinasi dari hasil membacanya. 

Satu lagi…ia jadi ketagihan bacaan baru ketika buku-buku dirumah sudah ditamatkannya. Toko buku-pun menjadi salah satu tempat yang menyenangkan buatnya…


Langkah selanjutnya adalah menariknya ke “atmosfir menulis”

Mengapa?

Dengan menulis maka kita akan dapat meninggalkan jejak ilmu yang akan terus mengalir kepada pembacanya. Ilmu yang bermanfaat itu akan mengalirkan pahala kepada penulisnya.

Namun, mustahil kita dapat menulis apabila tidak membaca referensi. Semakin banyak membaca, maka akan semakin banyak kita memiliki ide untuk menulis.

Jadi masih ragu dan enggan memberikan contoh cinta membaca kepada tunas kita ?



“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)





* meski baru 1 tulisan  yang diterbitkan di salah satu media lokal jawa barat, Alhamdulillah, ternyata “si kecilku “ sedikit demi sedikit sudah mampu menuangkan kosakata yang selama ia kumpulkan melalui bacaan ke dalam sebuah tulisan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...