Kamis, 10 November 2016

mencegah emosi negatif anak terbawa hingga usia dewasa (2)



Seperti halnya yang saya ceritakan sebelumnya tentang beberapa reaksi akibat dikekangnya emosi anak sehingga menimbulkan emosi negative yang terbawa hingga di usia dewasa.
Apa yang telah terjadi pada anak-anak ini?
Mungkin saja anda pernah atau seringkali  mengabaikan kebutuhannya baik materi ataupun kasih sayang.
Cobalah bertanya pada diri sendiri :
Senangkah anda akan pujian?
Senangkah anda sebuah pelukan
Senangkah anda ketika kedua orang tua atau orang-orang terdekat anda memberikan ada banyak waktu untuk memuaskan keinginan berkomunikasi, bercengkrama atau hanya sekedar belajar bersama.
Atau senangkah anda ketika anda diberi kesempatan untuk mengambil peran dalam pengambilan keputusan baik oleh keluarga, teman atau bahkan atasan anda?
Tentu anda akan sangat senang memiliki kesempatan itu bukan?
Demikian halnya dengan anak-anak. Beberapa contoh hal diatas tentunya akan memberikan kebahagiaan yang sangat besar bagi anak-anak kita.
Amarah yang seringkali timbul dengan pemicu apapun akan dapat teratasi apabila memberi kesempatan kepada si kecil untuk bercerita, bercengkrama atau bahkan hanya sekedar ciuman dan pelukan sayang yang meyakinkannya bahwa anda ada.
Namun, menjadi satu catatan penting dalam menghadapi hal ini adalah memberikan kesempatan bagi anak untuk menjadi pengambil keputusan yang dominan bagi dirinya. Latihlah ia untuk berani mengambil keputusan, berani menghadapi resiko karena pengalaman tersebut tentunya akan dibawa hingga ia dewasa. Jengah sekali bukan apabila menemui seseorang yang sudah beranjak dewasa , namun ketika ia menghadapi masalah maka sedikit sedikit ia akan berkata : “nanti dulu, aku tanyakan pada kedua orangtuaku”; “aku tanyakan dulu boleh tidaknya pada orangtuaku”
Hmm…boleh sih melakukan hal itu tapi tidak dalam hal pengambilan keputusan yang berkaitan dengan orang lain ya, misalnya menyangkut keputusan dalam rumah tangga yang otomatis masalah tersebut akan terkait dengan pasangannya.
So…berikan kesempatan menumpahkan segala isi hati si kecil dengan kehadiran anda dan tentunya latihlah ia untuk tenang, berani mengambil keputusan dan menerima resiko sebagai konsekuensi atas apa yang telah lakukan. Tentunya dibawah supervisi anda ya. 


PS :
saya selalu memberikan pelukan kepada si kecil jelang ia masuk kelas dan sepulang sekolah. Bahkan di waktu-waktu lainpun saya sering melakukannya baik dengan si kecil .
Berpelukan 20 detik akan memicu keluarnya hormon oksitosin yang dikenal sebagai hormon cinta, sehingga orang yang kita peluk (pasangan, keluarga, rekan kerja sejenis, atau anak) merasa dihargai, mempercayai anda, menurunkan stress, memberikan motivasi dan tentunya kedekatan akan semakin terjalin. Anda tentunya membutuhkan hal ini untuk dapat membantu si kecil keluar dari jarring emosi negatif bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...