Kamis, 07 Mei 2015

Percaya diri dan kuat mental dengan kondisi lingkungan sekitar



Pergaulan anak-anak sekarang sangat berbeda jauh dengan apa yang saya alami 20 -30 tahun yang lalu. Dahulu, bila lingkungan kurang kondusif untuk pergaulan maka orangtua akan mulai ikut campur dengan memberikan banyak nasihat dan anak akan MENURUT. Tapi sekarang? Ketika kita melihat pergaulan anak-anak kita seolah-olah baik ternyata lingkungan disekitarnya bisa sangat dibilang kejam untuk anak usia 7 tahun. Ketika seorang anak memiliki kelebihan baik akademik dan non akademik, seringkali yang kita hadapi adalah perlakuan dari beberapa teman disekitarnya yang sudah memiliki bibit iri dan dengki.
Menginjak kaki teman, menyilangkan kaki sehingga temannya terjatuh, mengejek, membentuk geng anak-anak dan mengajak teman-temannya untuk menjauhi seseorang atau beberapa temannya yang tidak sefaham dengannya adalah hal biasa yang kita temui saat ini. 

Media televisi , media social, buku atau bacaan yang mulai beragam berperan penting membentuk karakter anak dari anak-anak yang baik menjadi anak-anak yang seperti saya katakan di atas. Lalu siapakah yang akan menjadi remnya? Tentunya orangtua yang selalu mendampingi anak-anaknya akan menjadi rem pakem optional bagi tumbuh kembang anak-anak. Namun semuanya akan menjadi kendala bila akhirnya ada orangtua yang bahkan mendukung perilaku premanisme cilik di sekolah karena adanya persaingan social, kemampuan dan pengaruh. Anak akan mengambil kesimpulan bahwa ia melakukan hal terbaik karena ada dukungan dari orangtua. Memang tidak ada sekolah yang membuat seseorang atau pasangan menjadi orangtua sempurna. Namun bukankah kita wajib mencharge ilmu parenting dengan mencari tahu sebanyak-banyaknya bagaimana menghadapi anak-anak masa kini sehingga kita bisa mendampingi dan mengarahkan anak agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang nantinya mengayomi, menjadi contoh, menjadi kebanggaan bagi sekitarnya. 

Mendampingi dan mengarahkan anak dengan lingkungan sekitarnya, bukanlah menjadi setir bagi anak. Hal tersebut akan menjadi bibit bagi anak untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan menguatkan mentalnya dengan kondisi lingkungan yang makin tak kondusif. Menunjukkan mana yang baik dan buruk langsung di tempat kejadian perkara dan memberikan solusi menghadapinya di masa yang akan datang akan menumbuhkan rasa bahwa AKU BISA melakukan dan menghadapi hal tersebut bagi anak. Dukungan bagi anak bukanlah berupa uang atau barang, tetapi cara kita mengarahkannya berupa  Pelukan, kalimat, sorot mata dalam menghadapi dunia nyata inilah yang membuat anak merasa mendapat dukungan.

1 komentar:

Rendang Kemasan Pilihan Praktis Di Kala Haji

Musim Haji telah Tiba Apakah Tahun Ini Giliran Anda Untuk Berangkat Ke Baitullah? Atau Giliran Orangtua, Kerabat, Tetangga? Su...