Rabu, 22 Januari 2014

Rabu, 22 Januari 2014 Menulis mengasah ketajaman pengetahuan




Sejak awal telah berkecimpung di dunia mengajar, saya berkomitmen ingin mengajar dengan hati tanpa harus bergantung pada berapa bayaran yang saya terima di suatu lembaga/universitas. Berawal dari sebuah lembaga pendidikan pengembangan kepribadian saya menemukan, inilah dunia saya. Disaat saya mengajar, sayapun bebas menulis berdasarkan pengetahuan yang saya dapat untuk dibagikan kepada mahasiswa dalam bentuk text book. Alhamdulillah semenjak tahun 1998 hingga kini materi-materi yang saya sampaikan dalam buku panduan bisa terpakai dengan beberapa revisi setiap dua tahun sekali. Meski harus membaca banyak literatur bahkan literatur asing, hal ini tidak akan menjadi sia-sia karena ilmu yang kita dapat dari membaca satu saat pasti akan bermanfaat apalagi  Melihat mahasiswa wisuda dengan nilai baik dan melihat mereka bekerja sebelum wisuda seperti halnya saya di tahun 1998 adalah satu kebanggaan.
            Berjibaku dengan banyak literatur, membaca hingga larut malam kemudian menuangkannya tulisan adalah  kewajiban saya untuk berbagi ilmu. Tak mengapa ketika buku panduan atau text book mata kuliah tak menjadi sebuah buku best seller atau sekedar nangkring di rak toko buku. Berbagi kemudahan mengakses ilmu untuk mahasiswa  tahun ke tahun semenjak tahun 1998 saat awal mula saya merintis pekerjaan sebagai asisten dosen sebelum akhirnya saya benar-benar menjadi dosen setelah lulus di tahun 2000 sudah lebih dari cukup.
            Menjadi staf pengajar di perguruan tinggi tak menghentikan langkah saya untuk menulis karena sesuai tridarma perguruan tinggi yaitu pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat maka saya dituntut untuk membuat sebuah karya ilmiah yang bagi orang lain adalah sebuah beban kerja tak menyenangkan. Namun, buat saya? Kegiatan penelitian, membaca, mengamati masalah, menganalisa dan menuangkannya ke dalam tulisan adalah cara saya mengasah ketajaman pengetahuan untuk dibagikan kepada mahasiswa dan tentunya masyarakat umum. Jadi siapa bilang menulis itu hanya dalam bentuk buku atau dalam bentuk karya yang diterbitkan di media? Sepanjang tulisan itu bermanfaat meski tak mendatangkan profit finasial maka itulah jalan kita menuju surga atas amal ilmu yang kita dapat dari membaca dan menulis. Setuju??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...