Apa pasal?
Beberapa hari yang lalu di bak sampah depan rumah, saya menemukan
sampah yang yakin bukan milik saya. Sampah non organic yang tergolong sampah
bersih sudah saya pisahkan dengan non organic tercampur dan acak-acakan dengan beberapa sampah
pospak yang basah dan hmm berbau menyengat. Entah kelakuan siapa ini yang jelas
bikin jengkel karena sampah yang sudah dipilah pilah, diacak dan dicampur
seenak jidatnya. Ceritanya TITIP SAMPAH.
Omelan panjang dalam hati pun antri. Huh…siapa lagi ini yang
enggan untuk sadar memisahkan sampah.
Mungkin Memisahkan sampah organic, non organic dianggap
ribet
Mengapa?
Saya pernah mendapatkan pernyataan ini dari salah seorang
ibu yang notabene istri dari abdi Negara alias PNS. Yah, mungkin pendapat saya
memang belum ada artinya buat beliau yang mengganggap bahwa memilah sampah itu
Ribet. Beliau beranggapan hanya bisa mengumpulkan sampah ke dalam satu kantong
sampah tanpa mau tahu manakah sampah organic dan non organic. Kalau disuruh
memilah sampah menurut golongannya dianggap ribet. Toh beliau telah merasa
membayar iuran tinggal letakkan sampah di depan rumah, nantinya ada tukang
sampah yang rutin mengambil. Beliau lupa keluhan yang ia sampaikan dengan bau
sampah menyengat akibat keterlambatan pengambilan sampah mengakibatkan bencana kecil berupa polusi bau akibat
perilakunya sendiri. kebayang nggak kalau sampah organic dan non organic nyampur….welehhh…

Idealis?
Mungkin.
Tapi tidak buat saya. Karena sebenarnya ngga susah untuk
memisahkan antara sampah organic, non organic. Yang penting Niat Ingsun dulu
lah
coba saja, misalkan 1 rumah melakukan pemisahan sampah organic, non organic lalu sampah organic itu dimasukkan ke dalam lubang biopori, sampah
berupa daun-daun kering kita tanam dalam
tanah yang nantinya bisa menjadi pupuk alami bagi tanah, jadi yang kita kirim
ke pembuangan sampah akhir hanyalah sampah non organic . tentunya kita
mempermudah pekerjaan para pengumpul botol, plastik bekas. . Sampah nggak akan
menggunung dalam jangka waktu lama, kita tak perlu menutup hidung saat melewati
TPA/TPS
bagaimana kalau yang melakukan 10 rumah, 100 rumah, 1000
rumah atau bahkan 10000 rumah. Nyaman bukan kalau lingkungan bersih.
Hmm jadi teringat dengan program pengolahan sampah di Surabaya.
Andai saja di Bandung punya tempat pengolah sampah serupa dan bisa melakukan
hal tersebut. Pilah sampah, setor sampah menurut golongannya, perlihatkan KTP
lalu bisa mendapatkan pupuk kompos Gratis….wah siapa yang nggak mau
Mungkin kalau Bandung bisa diberlakukan : setiap setor sampah sebanyak 10x atau 20x yang
sudah dipilah menurut golongannya akan mendapatkan bibit tanaman . aih pasti
makin bahagia tinggal di Bandung . selain membantu pengolahan sampah, pembagian
bibit tanaman gratis akan membantu penghijauan di Bandung….pasti banyak yang
mau kan.
Bibitnya dari mana? Todong aja perusahaan-perusahaan untuk
menyalurkan CSRnya dalam bentuk pengadaan bibit tanaman pelindung/buah-buahan….hahaha
pengen gratisan atuh
Apa sih susahnya memilah sampah? Toh bumi ini akan tetap
menjadi tempat tinggal bagi anak cucu kita. Jadi coba lah mulai menata hati
untuk memulai menata pilah sampah rumah tangga. Kalau bukan dimulai dari rumah
kita , lalu siapa lagi yang mau memulai?
Jangan sampai Sampahmu mendarah daging menjadi bencanamu….segera
dimulai ya…nggak pakai lama, ngga pakai ribet, nggak pake gengsi !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar