Senin, 02 April 2018

Punya geng “teman” itu Mahal?




Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis?

Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah
Mau seru-seruan rame rame tinggal pergi ke taman kota dan menikmati semangkuk bakso atau cuanki, atau tak jarang semangkuk bakso dimakan berdua atau bertiga, atau bahkan sekedar menyantap gorengan dan es limun. Sudah senang kan?

Kostumnya ? seragam sekolah atau paling banter celana jeans dan kaos polo
Jalan bareng tinggal jalan jalan cuci mata ke mall
Mau foto? Tinggal ke studio atau foto box , cekrek….jadi  …dan satu geng kebagian semua salinannya. Happy , punya kenangan indah di memori dan foto…rasanya jaman kala itu sudah cukup.


Sekarang….??


(buat yang ngga setuju monggo saja…..saya tidak akan meng-generalisasi sikap anda, hanya sekedar melihat dan menceritakan beberapa kenyataan yang terpampang di depan mata)
Ini yang harus menjadi perhatian untuk “merawat” pertemanan kita, ada beberapa hal yang sebenarnya seringkali membebani dan cenderung memaksakan diri. 


PAKAI BAJU, TAS, SEPATU, ASESORIS YANG SENADA


Okelah kalau sedang memiliki warna, motif pakaian yang telah ditetapkan “geng” kita.TIDAK ADA MASALAH
Heiiii......Itu berlaku untuk satu geng saja. 
Bulan 1 dresscode bertema merah biru, bulan 2 DC motif shabby, bulan 12 DC warna hitam dan bertas merah merk terkenal tertentu…. 

Lah kalo ngga punya? Ya harus beli….datang tanpa menggunakan DC biasanya akan menjadi bahan bully nyinyir teman-teman se genk

“Ah masa begitu saja repot Jeng, tinggal beli aja loh”
“berapa sih gaji suamimu sampai nggak mampu beli baju, cuman sebulan sekali loh”


Semudah itukah membebani pikiran kita untuk bergaya hidup konsumtif?
Semudah itukah mengatasi “rasa” jengah yang seringkali timbul ketika orang orang  melihat kita bersama “geng” menggunakan pakaian/tas/sepatu/asesoris yang nyaris sama warna/motif?

Lhah itu hanya acara arisan, belum lagi nanti bila ada salah satu anggota mau menikah, atau salah satu anggota keluarga teman “kita” ini menikah atau sunatan, maka DC akan berbeda pula. Pusing Tak?



"Kumpul-kumpul"  DI RESTO YANG RELATIF MAHAL DAN INSTAGRAMABLE

Menjaga silaturahmi melalui arisan hanyalah menjadi sumber kesenjangan sosial dengan pribadi, sekelompok lainnya (catat : hanya untuk yang dirinya memiliki genk , genk yang merasa eksklusif, kalau arisannya murni untuk silaturahmi ya tidak apa apa bukan? ). 


Mengapa? Ketika anda mengunggah gambar /foto bersama rekan-rekan ketika sedang berkegiatan tentunya tidak bisa terhindarkan untuk saling berlomba mengabadikan makanan/minuman yang dipesan saat arisan, atau bahkan berfoto bersama di salah satu sudut tempat pertemuan yang tentunya instagramable (ho…ho tak terbayang menariknya , bukan).


 Cobalah untuk respect dengan lingkungan sekitar, masih ada banyak orang yang membutuhkan bantuan. Jadi bagaimana dengan anda yang justru tak segan-segan membayar mahal makanan dan minuman bahkan kadang seringkali tak termakan dan terbuang, sedangkan di luar sana, banyak yang belum pernah sekalipun merasakan makanan yang anda santap.


Belum lagi bila ada rekan anda menang arisan, lulus sarjana, suami naik jabatan, maka acara kumpul-kumpul membuat anggota yang bersangkutan wajib traktir traktir .

bukan soal hitung-hitungan, tapi mengapa hal ini jadi kebiasaan yang cenderung “memaksa” teman kita.(baca : mengemis minta traktir )

 Okelah bila kondisi ekonomi teman sedang stabil, kalau sedang carut marut kemudian malu untuk menolak, maka genk anda sudah masuk genk sandiwara , bukan? Jadi maukah anda mempertimbangkan kembali gaya hidup satu ini?


MENJAUHI DAN MEMBICARAKAN ORANG LAIN YANG TIDAK MASUK GENG

Kalaulah kegiatan kumpul-kumpul kita ini diwarnai dengan bakti sosial, mengunduh ilmu bersama, bertukar pikiran tentang pendidikan anak anak, atau sekedar membuka cooking/ beauty class kecil-kecilan sih oke oke saja.

Tapi…….seringkali malah mengarah ke “ngegosipin” orang lain yang jelas-jelas tidak masuk genk kita. Gossip baik atau jelek tetap patut dihindari…ngomongin orang lain dibelakangnya adalah kejahatan. Belum lagi ditambah keinginan untuk merasa eksklusif, selain genk anda mutlak dijauhi…..(ho…ho….tanyakan pada lubuk hati yang paling dalam, apakah anda pantas merasa eksklusif?)

Hmmm….ini hanya sebagian kecil dari beberapa hal yang saya rasa tidak patut untuk dijadikan contoh dan kebiasaan.

Menjaga silaturahmi, merangkul pertemanan sebanyak banyaknya memang wajib, tapi apakah harus menyiksa diri atau orang lain hanya karena ingin dilihat eksklusif dan kompak? apakah harus semahal itu untuk menjadi teman bahkan sahabat? harus melakukan hal tersebut? harus??

 Jadilah sahabat yang bersahabat, jadilah teman yang saling menjaga dan melindungi….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Punya geng “teman” itu Mahal?

Pernah nggak merasakan masa masa sma punya geng yang seru abis? Mau ngumpul tinggal janjian makan di kantin sekolah Mau seru...